Deputi Gubernur BI: Ekonomi Syariah Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 

gomuslim.co.id- Industri keuangan syariah diyakini dapat menjadi alternatif bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia ditengah adanya gejolak ekonomi dan keuangan global. Ekonomi syariah juga dipercaya dapat membantu mengatasi masalah fundamental ekonomi, seperti defisit transaksi berjalan.

Demikian disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo di Jakarta baru-baru ini. Ia menyebut sejumlah data terkait perkembangan keuangan syariah menambah keyakinan pemerintah atas prospek sektor ini pada masa mendatang. Pasar keuangan syariah dinilai bisa menjadi pendorong baru pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Ia menyebut bahwa pihaknya telah mengembangkan cetak biru strategi pengembangan ekonomi syariah. Cetak biru biru strategi ekonomi dan keuangan Islam tersebut dirumuskan dalam tiga pilar.

“Pilar pertama adalah terkait pemberdayaan dan penguatan ekonomi Islam melalui pengembangan rantai nilai halal. Misalnya dengan mengembangkan ekosistem berbagai tingkat bisnis syariah, termasuk pesantren, UKM, dan perusahaan,” ujarnya.

Program ini bisa diterapkan pada sektor-sektor unggulan, yaitu industri makanan halal, sektor pariwisata halal, sektor pertanian dan sektor energi terbarukan.

“Dalam pilar kedua cetak biru, Bank Indonesia mendukung distribusi pembiayaan Islam untuk pengembangan rantai nilai halal melalui pendalaman pasar keuangan Islam untuk meningkatkan efisiensi manajemen likuiditas pasar keuangan Islam,” katanya.

Sementara pilar ketiga adalah memperkuat penelitian, penilaian dan pendidikan ekonomi dan keuangan Islam untuk meningkatkan literasi publik mengenai ekonomi dan keuangan Islam.

“Hari ini, saya akan fokus pada dua pilar utama, yaitu pemberdayaan ekonomi Islam dan pendalaman pasar keuangan Islam, mengingat hubungan yang sangat erat antara dua pilar tersebut,” katanya.

Selain itu, tata kelola dana sosial syariah, sistem informasi zakat dan Wakaf, kerja sama dengan para pemangku kepentingan yang relevan, dan penguatan infrastruktur dan institusi lainnya. Ketiga, penerbitan instrumen repo syariah dan hedging syariah.

“Saat ini, Bank Indonesia juga sedang merancang instrumen-instrumen BI sukuk untuk menjadi bagian dari instrumen kebijakan moneter berbasis syariah untuk memperkuat manajemen likuiditas perbanka,” ujarnya.

Berdasarkan Global Islamic Finance Report 2017 diketahui bahwa aset keuangan syariah Indonesia berada di peringkat ke-10 secara global setara US$ 66 miliar. Selain itu, Islamic Finance Country Index juga meningkat menjadi enam pada 2018 sedangkan indeks pada tahun lalu tujuh.

Sampai dengan pertengahan tahun ini, pangsa perbankan syariah dari segi aset sekitar 6% dari keseluruhan industri perbankan. Sementara itu, pangsa aset industri keuangan syariah mencapai 8,5% dari total aset industri keuangan di Indonesia.

Laporan Islamic Financial Services Board (IFSB) juga melansir bahwa aset perbankan syariah Indonesia berada di peringkat ke-9 secara global atau mencapai USD 28,08 miliar. Kendati demikian, bank sentral menyatakan pengembangan ekosistem keuangan syariah belum sempurna. (njs/katadata/kumparan/foto:bi)

 


Back to Top