BI: Industri Produk Halal Jadi Sumber Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

gomuslim.co.id- Industri produk berlabel halal diharapkan bisa menjadi sumber baru pertumbuhan ekonomi Indonesia. Demikian disampaikan Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI), Anwar Bashori baru-baru ini.

Menurutnya, bisnis produk berlabel halal memiliki potensi pertumbuhan yang cukup besar. Sektor ini pun diproyeksikan dapat membantu mengatasi masalah defisit transaksi berjalan Indonesia.

Anwar menyebut, pengembangan sektor industri produk halal ini sejalan dengan upaya pemerintah yang saat ini fokus mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif. Ia mencontohkan beberapa produk ekspor berlabel halal Indonesia terbukti sukses di luar negeri.

“Wardah misalnya yang menjadi produk kosmetik berlabel halal nomor tiga di Malaysia. Selain itu, Indomie juga dikenal di luar negeri seperti Afrika dan Arab Saudi sebagai produk berlabel halal Indonesia,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan ada potensi bisnis berlebel halal bisa membantu menyelesaikan masalah defisit transaksi berjalan di Indonesia. Namun, masih ada beberapa masalah yang perlu diselesaikan sebelum produk berlabel halal berperan membantu perekonomian.

Sementara itu, Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Sapta Nirwandar berharap Indonesia bisa dikenal sebagai produsen bisnis halal yang berpotensi di Indonesia. Menurutnya, permasalahan halal di Indonesia disebabkan belum adanya integrasi bisnis halal dari hulu ke hilir.

Secara global, kata dia, potensi bisnis produk berlabel halal adalah sebesar 3,08 triliun dolar Amerika Serikat (AS) di tahun 2022. “Bisnis terbesar adalah makanan berlabel halal, fashion, perjalanan halal, rekreasi halal, dan kosmetik halal,” ungkapnya.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo menyebut pengembangan ekonomi dan keuangan syariah diharapkan menjadi upaya dalam memperkuat struktur perekonomian Indonesia. Sebagai bentuk dukungan nyata pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, BI merumuskan tiga pilar strategis utama.

Pertama, pemberdayaan dan penguatan ekonomi syariah melalui pengembangan rantai nilai halal. BI akan mengembangkan ekosistem dari berbagai tingkat bisnis syariah, termasuk pesantren, UKM, dan perusahaan untuk memperkuat struktur ekonomi.

Program ini dilaksanakan di 4 sektor utama, yakni makanan halal, pariwisata halal, sektor pertanian, dan energi terbarukan.

Kedua, pendalaman pasar keuangan syariah untuk mendukung pembiayaan syariah. Dalam pilar kedua ini, dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi manajemen likuiditas pasar keuangan syariah.

Ketiga, memperkuat pendidikan ekonomi dan keuangan syariah untuk meningkatkan pengetahuan publik. Untuk meningkatkan peran dan kontribusi ekonomi dan keuangan syariah diperlukan peran aktif dari semua pihak.

Pengembangan ekonomi keuangan syariah dibutuhkan untuk memperkuat struktur ekonomi dan pasar keuangan. Adanya gejolak ekonomi global menjadi tantangan dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

BI menyebut ketidakseimbangan global pada saat ini semakin melebar. Kesenjangan dalam penguasaan faktor produksi, pendidikan dan pendapatan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi secara merata, adil, proporsional dan berkelanjutan.

BI juga memaparkan ekonomi syariah memiliki potensi yang besar untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan. Sehingga pengembangan ekonomi dan keuangan syariah diharapkan menjadi upaya dalam memperkuat struktur ekonomi global saat ini dan mendatang. (njs/kontan/foto:sharianews)

 


Back to Top