Begini Cerita Amil Lazismu Selamat dari Gempa dan Tsunami di Palu

gomuslim.co.id- Bencana Gempa dan Tsunami di Palu dan Donggala menyisakan beragam cerita. Salah satunya, carita datang dari Arief Rahman, amil Lazismu yang berada di lokasi saat dirinya bersama 24 pesepeda datang Pantai Salise dalam rangka Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) 2018.

Melalui saluran telepon Arif bercerita, di bibir pantai tersebut banyak warga yang ingin menyaksikan festival. Hal demikian karena festival dan pameran bertepatan dengan ulang tahun Kota Palu.

Ia menyebut, waktu itu antara siang hari menjelang petang, pertama kali guncangan gempa terasa. Arief mengatakan, guncangan itu dirasakan sampai dua kali dengan kekuatan magnitudo 5 – 6 SR. Kondisi pantai untuk persiapan pembukaan festival masih ramai. Arief menyaksikan beberapa petugas keamanan yang dikerahkan untuk mengamankan festival Nomoni.

“Ketika gempa pertama terjadi saya masih sempat melihat kerumunan massa. Apakah mereka masih di sana atau tidak saya tidak tahu, karena saya dan pesepeda lainnya meninggalkan tempat itu mencari tempat yang lebih aman. Namun saya mendengar orang-orang sudah ramai berteriak jika ada guncangan gempa tersebut,” kisahnya.

Waktu semakin sore, hingga menjelang magrib suasana mulai gelap. Arif dan rekan-rekannya sudah jauh dair bibir pantai. Di saat waktu magrib inilah gempa susulan yang semakin hebat dayanya dirasakan kuat. “Semua orang panik, mereka berlarian tidak karuan. Semua menyelamatkan diri,” jelasnya.

Berdasarkan informasi yang diterima Arief, gempa susuluan dengan kekuatan 7,4 SR, yang diikuti gelombang Tsunami selang waktunya hanya 5 menit. Selain mengguncang Palu dan sekitarnya, di daerah Donggala juga tidak kalah parahnya, rumah dan bangunan juga hancur. 

Gelombang Tsunami menggulung setiap benda dan manusia yang ada di permukaan tanah. Arif masih tetap didataran tinggi, ia turun ke bawah sekitar pukul 22.05 waktu setempat. Arif tak kuasa menyaksikan di sepanjang jalan dengan bersepeda, rumah, masjid dan bangunan lainnya sudah ambruk. “Posisi malam itu gelap gulita,” paparnya.   

Ia sempat melihat beberapa korban yang tergeletak di jalan, sebagian warga yang lain ada yang menolong, semua dalam keadaan malam yang sepi. Sebagian kecil warga naik ke atas, tempat yang aman.

Sebagian yang lain lagi ada yang mencari anggota keluarga. Arif tak mampu berbuat banyak, karena ia juga memikirkan nasib keluarganya lantas pulang ke rumah ke Tolitoli itu pun sepanjang perjalanan ia sempat tidur karena mencari tempat aman yang sulit. Ia sempat terkilir menyelamatkan diri hingga tangannya memar.

Arif pun datang kembali dan bergabung dengan para relawan yang ada di Posko Koordinasi MDMC di Universitas Muhammmadiyah Palu di Jalan Jabal Nur No.1, Talise, Mantikulore, Kota Palu. Meski ia masih lelah dan trauma, namun jiwa kerelawanannya memanggil untuk bergabung bersama tim MDMC.

Di sepanjang perjalanan jalan-jalan amblas dan terbelah, pohon tumbang. Betul-betul-merusak infrastruktur. “Saya kesulitan memilih jalan yang retak karena terbelah,” tuturnya.

Di tengah kesulitan itu, ia masih melihat korban yang tertimpa runtuhan karena belum ada aparat yang datang untuk mengevakuasi hanya warga setempat yang melakukan evakuasi.

Sebelumnya, Lazismu juga mencari keberadaan Arif Rahman, karena ia sempat mengunggah postingan festival Nomoni yang diikutinya melalui akun Facebook pribadinya.

Sampai dengan hari Ahad, keberadaan Arief masih belum diketahui. Selanjutnya, Senin, 1 Oktober 2018, melalui akun Facebooknya, Arief muncul dan menyampaikan postingannya dengan tulisan: Alhamdulillah, saya selamat dari gempa dan tsunami yang melanda Palu, Jum’at kemarin.

“Hanya sedikit memar akibat benturan dan sekarang masih di Palu posisinya. Saya ke Palu dalam rangka ikut event sepeda Palu Nomoni yang lokasinya di pantai Talise lokasi paling parah terdampak Tsunami kemarin. Terima kasih doanya teman-teman semua dan mohon doa semua baik-baik saha,” demikian tulis Arief dalam postingannya.

Soal Penjarahan

Pasca gempa dikabarkan bantuan untuk para korban masih belum ada. Saat itu, semua masih terasa panik, karena gempa susulan masih terjadi meski dalam skala kecilm kekuatannya. Bahkan dalam situasi itu, semua warga yang terdampak juga mulai membutuhkan makanan dan minuman.

Di beberapa media sosial, warganet juga mendapat kabar ada sebuah kampung yang seluruh warganya terkubur. Di samping itu, ada sebagian warga yang melakukan penjarahan. Untuk mengetahui peristiwa itu, tim media Lazismu juga mendapatkan informasi perihal kebenaran berita itu.

Arief mengabarkan bahwa dirinya pada Ahad kemarin betul-betul menyaksikan sebagian warga yang menjarah. Arief juga menggali informasi dari salah seorang warga yang melakukan penjarahan. Menurut salah seorang warga, seperti diceritakan Arief, kami sudah lapar, karena tidak ada makanan yang dapat di makan.

Mesin ATM untuk mengambil uang pun tidak bisa digunakan. Apa yang mereka temukan mereka ambil, terutama makanan dan minuman untuk mengisi perut yang lapar. (njs/lazismu)

 

 


Back to Top