Kembangkan Ekonomi dan Keuangan Syariah, BI Kalsel Gandeng Perguruan Tinggi

gomuslim.co.id - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalsel (KPw BI Kalsel) menggelar Training of Trainer Ekonomi dan Keuangan Syariah di Banjarmasin, Rabu (24/10/2018). Kegiatan yang bekerjasama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin ini dilakukan sebagai bagian dari misi BI untuk  perkuat Ekonomi dan Keuangan Syariah di Indonesia.

Kegiatan ini diikuti oleh para Dekan, Wakil Dekan, Dosen dari berbagai kampus, Tenaga Pengajar di Pesantren dan stakeholder lainnya. Mereka diberikan pemahaman potensi besarnya manfaat dan cara efektif kembangkan ekonomi dari Zakat dan Wakaf.

Menurut Deputi Kepala KPw BI Kalsel, Moch Irwan, aspel pendidikan menjadi aspek yang sangat strategis untuk bisa sukseskan implementasi Blueprint Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah yang dirumuskan dan diterbitkan BI sejak Tahun 2017 lalu.

“Materi-materi yang disampaikan tenaga pengajar baik di kampus-kampus maupun pesantren bisa efektif informasikan manfaat dan potensi ekonomi syariah bangun perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, aspek edukasi juga merupakan satu diantara tiga pilar dalam strategi utama pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yaitu pertama pemberdayaan ekonomi syariah, kedua pendalaman pasar keuangan syariah, ketiga penguatan riset, asesmen dan edukasi. "Training of Trainer ini menjadi wujud pelaksanaan pilar ketiga dalam strategi ini," katanya.

Kalsel sendiri sudah memiliki modal yang kuat sebagai pusat pengembang ekonomi dan keuangan syariah di Kalimantan baik dari aspek kultur, budaya dan ekonominya. Pada aspek Pendidikan, BI bekerjasama dengan Asosiasi Program Studi Ekonomi Islam Indonesia (APSEII) juga inisiasi pengembangan kurikulum Perguruan Tinggi melalui perumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Program Studi S1 Ekonomi Syariah dan Islam.

 

Baca juga:

Deputi Gubernur BI: UMKM Punya Peluang untuk Berkembang Lewat Fintech Syariah 

 

BI juga menyusun buku referensi mengenai ekonomi dan keuangan syariah dengan judul Pengelolaan Zakat yang Efektif, Wakaf : Pengaturan dan Tata Kelola yang Efektif dan Usaha Mikro Islami.

Bahkan tak hanya untuk jenjang Perguruan Tinggi, BI juga susun materi pengajaran ekonomi dan keuangan syariah untuk jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Akhir.

Menurut Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Antasari, Faturahman Azhari, hal ini sejalan dan sesuai dengan arah kebijakan beberapa negara Islam lainnya di sektor perekonomian. Di mana negara-negara lainnya yang miliki jumlah masyarakat muslim besar mulai rumuskan untuk tingkatkan pemanfaatan zakat, wakaf, infaq dan sedekah sebagai salah satu motor penggerak perekonomian.

"Instrumen keuangan syariah seperti sukuk, wakaf, zakat, infaq dan sedekah di Indonesia juga sangat berpotensi untuk biayai infrastruktur ekonomi negara," kata Faturahman.

Namun, ia menilai masih belum sempurnanya implementasi menyebabkan peran instrumen keuangan syariah belum maksimal dorong perekonomian.

"Contohnya wakaf, masih banyak yang belum tersertifikasi. Ini sebabkan ada aset yang sudah diwakafkan ternyata diambil kembali bahkan diambil paksa oleh anak pemilik aset padahal sudah diwakafkan. Karena diwakafkan hanya berdasar ucapan lisan," terangnya.

Karena itu, ilmu pengelolaan wakaf yang baik sangat diperlukan untuk bisa maksimalkan potensi wakaf dorong kemajuan ekonomi dan keuangan syariah umat.

Selain Moch Irwan dan Faturahman Azhari, Training of Trainer juga dihadiri perwakilan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Cecep Maskanul Hakim, Kepala Pengawasan Pasar Modal OJK Regional IX Kalimantan, Ridwan Ali dan Dosen dari Universitas Padjajaran dan Airlangga. (njs/banjarmasinpost/foto:jejakrekam)

 

Baca juga:

IMF Bahas Potensi Keuangan Syariah untuk Dorong SDGs


Back to Top