Fashion Show Koleksi Modest Wear ‘Kalamanthana’ Ramaikan Festival Ekonomi Syariah Balikpapan

gomuslim.co.id - Kalimantan memiliki kekayaan alam dan budaya, termasuk kain tradisional. Seperti Kalimantan Timur yang dikenal dengan kain tradisional: tenun Ulap Doyo, sarung Samarinda, dan batik Paser. Keragaman kain tradisional Kalimantan Timur dengan keunikan masing-masing tersebut diangkat oleh designer Wignyo Rahadi dalam koleksi modest wear bertema “Kalamanthana” yang ditampilkan dalam acara fashion show di FESyar (Festival Ekonomi Syariah) yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kalimantan Timur pada (3/11/2018) di Pentacity Shopping Avenue, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Tema “Kalamanthana” terinspirasi dari sebutan Pulau Kalimantan oleh para ilmuwan di masa lampau. Kain tradisional Kalimantan Timur umumnya dihiasi dengan motif yang diambil dari kekayaan alam di Pulau Borneo, seperti motif flora berupa bunga anggrek hitam dan buah mangga kesturi yang telah punah dan menjadi maskot Pulau Kalimantan. Keragaman warna flora tersebut diangkat oleh Wignyo dalam koleksi ini, yaitu warna hitam yang anggun sekaligus misterius mewakili bunga anggrek, warna kuning yang dinamis dari mangga kesturi, dan warna hijau yang asri merupakan warna pepohonan di hutan Borneo.     

Untuk koleksi modest wear “Kalamanthana” ini, Wignyo menggunakan kain tradisional Kalimantan Timur berupa tenun Ulap Doyo, sarung Samarinda, dan batik Paser yang merupakan hasil karya UMKM binaan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kalimantan Timur. Ketiga material tersebut dipadu padan dengan tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) kreasi Wignyo yang dituangkan dalam dominasi desain kontemporer dengan siluet ringan hingga berkonstruksi kuat, yakni padanan abaya, tunik, celana kulot, dan sentuhan obi. Permainan draperi atau efek tumpuk dan potongan asimetris ditampilkan untuk menciptakan kesan elegan yang dinamis.

Baca juga:

BI Balikpapan Siap Gelar Festival Ekonomi Syariah Pekan Ini

 

Ornamen yang diaplikasikan pada koleksi ini terbuat dari material tenun ATBM dalam bentuk permainan garis geometris, susunan patchwork, dan detail pleats (lipit). Tak ketinggalan aksen tenun benang putus, anyaman bintik, dan salur bintik yang menjadi ciri khas tenun ATBM kreasi Wignyo. Aksentuasi tersebut dipusatkan pada bagian tertentu. Perpaduan multi motif, warna, dan tekstur dari ragam material dalam sebuah rancangan menjadi pikat aksen dalam koleksi modest wear kontemporer yang sarat histori ini.

Untuk diketahui, Wignyo Rahadi yang telah mendirikan usaha tenun dengan brand Tenun Gaya pada tahun 2000, konsisten mengembangkan desain dan teknik kerajinan tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang mengangkat inspirasi dari motif kain dan kerajinan tradisional dengan sentuhan modern agar dapat diterima oleh lintas generasi. Inovasi yang dilakukannya telah menciptakan motif tenun ATBM dengan ciri khas etnik kontemporer.

Selain itu, dedikasinya dalam merevitalisasi kerajinan tenun pun telah menuai berbagai apresiasi dari tingkat nasional hingga internasional, di antaranya penghargaan Pemenang Lomba Selendang Indonesia 2018 oleh Adiwastra Nusantara Kategori Selendang Tenun Katun berjudul “Tapis Motif Belah Ketupat”, Dekranas Award 2017 Karya Kriya Terbaik Kategori Tekstil berjudul “Besanan”, World Craft Council Award of Excellence for Handicrafts: South-East Asia Programme 2014, UNESCO Award of Excellence for Handicrafts: South-East Asia Programme 2012, dan lainnya. (fesyar/rilis/dbs)

 

Baca juga:

Ini Tiga Pesantren yang Wakili Regional Jawa pada Festival Ekonomi Syariah 2018


Back to Top