Pengamat Haji dan Umrah Indonesia Nilai Petugas Haji Perlu Disertifikasi

gomuslim.co.id - Petugas haji di bidang kesehatan dan bimbingan ibadah haji adalah profesi yang butuh keahlian. Karenanya mereka harus punya sertifikasi profesi dari Badan Standardisasi Nasional (BSN) supaya kinerja mereka bisa diukur.

Pengamat Haji dan Umroh Indonesia, Ade Marfuddin mengatakan, tiap tahun pihaknya tidak perlu lagi melakukan seleksi petugas haji, pendaftaran, tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pelatihan dan lain-lain karena mereka yang sudah punya sertifikasi profesi diangkat jadi petugas yang jangka waktunya (bisa bertugas, Red) selama tiga tahun.

“Kalau petugas haji disertifikasi justru akan memperkecil pengeluaran biaya. Sebab tidak ada lagi rekrutmen petugas haji setiap tahun dan tidak ada biaya pelatihan petugas haji, cetak buku, narasumber serta yang lainnya,” tutur Ade yang juga Ketua Umum Rabithah Haji Indonesia, Senin (14/01/2019).

Mereka dapat bertugas selama tiga tahun, lanjut dia, kecuali petugas haji yang lama dan memiliki sertifikasi mengalami sakit, meninggal dunia dan mengundurkan diri, maka diganti dengan yang baru. Tapi, petugas yang kurang bagus dalam menjalankan tugasnya juga bisa langsung dipecat dan dicabut sertifikasinya. Kemudian diganti dengan yang baru.

 

Baca juga:

Kemenag Susun Pengembangan Aplikasi Haji Pintar

 

Menurutnya, petugas haji yang memiliki sertifikasi tidak hanya bertugas saat menjelang musim haji sampai prosesi ibadah haji selesai saja. Mereka bisa membantu memberikan pelatihan manasik haji sejak dini kepada calon-calon jemaah haji yang jumlahnya 3 juta orang.

"Saya ingin petugas haji bisa membuat calon jamaah haji pintar, cerdas dan paham manasik haji, bukan paham manasik haji dadakan saat calon jemaah mau berangkat doang," ujarnya.

Menurutnya, kalau uang jemaah haji dialokasikan untuk menyelenggarakan program manasik sejak dini, jemaah senang dan untung.

Sebab, kata dia, jemaah bisa benar-benar paham manasik haji. Pemerintah juga akan terbantu dengan banyaknya calon jemaah haji yang paham manasik.

“Petugas kesehatan haji yang memiliki sertifikasi juga bisa memantau calon jemaah haji dari jauh-jauh hari. Jangan sampai calon jemaah haji baru diketahui melakukan cuci darah atau gagal ginjal sebelum berangkat berhaji,” tandasnya. (nat/dbs/foto:Bisnis.com)

 


Back to Top