Ditpontren Perkuat Kapasitas dan Literasi Digital

gomuslim.co.id - Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Ditpontren) Kemenag melaksanakan Review Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian dan Lembaga (RKA/KL) pada Rabu, (16/01/2019). Dalam sambutannya, Direktur Ditpontren Ahmad Zayadi mengatakan akan perkuat kapasitas dan literasi digital kader pemimpin pesantren, para ustad, santri dalam konteks moderasi agama.

“Santri itu pribadi yang santun toleran dan mampu berkomunikasi dengan siapapun dengan cara yang baik,” tukas Ahmad. 

Selanjutnya, antara program dengan ruh moderasi agama, Doktor lulusan UPI Bandung ini telah membuat program terobosan berupa Refresher Program 5000 Kiai dan Revitalisasi Sastra, Ilmu Sastra dan Nilai budaya pesantren.

“Pengalaman saat MQK, terkait kajian sastra di Pesantren, kita disulitkan untuk mendapati hakim yang ahli ilmu ‘Arudh, Balaghoh. Kita sulit mendapati ahlinya. Tahun ini, kita akan afirmasi,” tambahnya. 

 

 

Baca juga:

Hari Amal Bakti ke-73, Kemenag dan Pemkot Bekasi Janji Berikan Beasiswa untuk Siswa Hafidz Qur’an

 

Dalam kesempatan yang sama, Ditpontren juga akan mensinergikan setiap program kerja yang akan diselenggarakan pada 2019 dengan Risalah Jakarta. Sinergi tersebut mencakup program yang bersifat reguler, inovatif atau unggulan, serta terobosan.

Untuk diketahui, Kementerian Agama pada akhir Desember 2018 menggelar Dialog Lintas Iman. Kegiatan yang dihadiri para tokog agama, akademisi, dan budayawan ini menghasilkan lima rumusan strategi yang disebut dengan Risalah Jakarta. Kelima rumusan ini menyoroti pentingnya gerakan bersama dalam menyikapi ekslusivisme, ekstrimisme, dan disrupsi.  

Lima strategi itu mendorong Pemerintah untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam gerakan penguatan keberagamaan yang moderat sebagai arus utama serta menghapus atau membatasi regulasi dan kebijakan yang menumbuhsuburkan eksklusivisme dan ekstremisme beragama. Pemerintah juga perlu mengembangkan strategi komunikasi berbangsa agar terhindar dari kegagapan menghadapi era disrupsi dan membangun gerakan kebudayaan untuk memperkuat akal sehat kolektif. 

Menurut Zayadi, sesuai arahan Menteri Agama, lima  point penting Risalah Jakarta itu harus menjadi peta jalan program Kementerian Agama. Dit PD Pontren berkomitmen untuk ikut mengambil langkah konkrit dalam memimpin gerakan penguatan moderasi keberagamaan masyarakat Indonesia. 

Zayadi meminta Risalah Jakarta dijadikan guide line dalam setiap program yang ada di Sub Direktorat, dari Subdit Pendidikan Kesetaraan hingga Subdit Pendidikan Pesantren dengan memperkuat literasi kitab kuning  dan dirasah islamiyah yang ada di Pondok Pesantren di negeri ini.

“Semua harus dirangkum dalam tema moderasi agama, instrumen yang kita gunakan. Kita juga harus menjembatani para masyayikh dalam dunia kreatif dan dunia digital dengan generasi milenial, agar para masyayikh tetap menjadi rujukan utama dengan napas pesantren dan nilai-nilai luhur moral dan agama,” terangnya. (nvi/dbs/kemenag)

 

Baca juga:

Ponpes Salafi Assogiri Berdayakan Anak Putus Sekolah dengan Belajar Gratis


Back to Top