Selama 2018, 3.220 Santri Ikut Program Santripreneur Kemenperin

gomuslim.co.id – Sebanyak 3.220 santri telah mengikuti Program Santripreneur dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) selama 2018. Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menyebut para santri tersebut terdiri dari 16 pondok pesantren di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

"Lewat program ini, kami akan mendorong para santri, khususnya generasi milenial untuk bisa berindustri dan berkreasi dengan berbagai program pelatihan yang mereka dapatkan," ujarnya, Jumat (08/02/2019).

Program pembinaan dan pelatihan tersebut mengenai industri daur ulang sampah, konveksi busana muslim, makanan dan minuman olahan, kerajinan, perbengkelan, pupuk organik cair, dan pendampingan sertifikasi SNI garam beryodium. Kegiatan tersebut dirancang karena sudah ada komunitas dan keahlian yang cukup di sejumlah pesantren.

"Kami juga mendorong ekosistemnya. Salah satunya di pesantren Jawa Barat, untuk membuat roti. Kemudian roti itu dikonsumsi oleh santri-santri di sana. Selain itu, produksi air minum dalam kemasan, yang nantinya dikonsumsi juga oleh para santri. Bahkan belajar tentang daur ulang sampah agar bisa menjadi bahan bakar untuk memasak," kata Menperin.

Kemenperin juga pernah menjalankan pilot project Santripreneur, yakni berupa program bimbingan teknis pengolahan ikan, pembuatan alas kaki, dan pelatihan pembuatan lampu Light Emitting Diode (LED).

"Santripreneur bertujuan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) bertalenta di lingkungan pesantren, sehingga menjadi bekal para santri untuk belajar mandiri dan berwirausaha sebelum terjun ke masyarakat," ungkapnya.

Di samping itu, guna menyukseskan Program Santripreneur, Kemenperin telah menggandeng Bank Indonesia (BI) dalam memfasilitasi inkubator bisnis syariah mengenai keuangan mikro syariah dan nonkeuangan seperti agrobisnis serta perdagangan dan jasa.

Inkubator bisnis syariah bertujuan untuk mendorong pengembangan ekonomi syariah melalui pemberdayaan ekonomi pesantren.

Beberapa program pelatihan yang diberikan, antara lain tentang motivasi usaha dan penyusunan rencana bisnis, pelatihan Rapid Rural Appraisal (RRA), penyusunan studi kelayakan, pelatihan strategi pemasaran, serta pelatihan hukum bisnis, fiqih muamallah dan akad perbankan syariah.

 

Baca juga:

Genjot Program Pesantren Preneur, Menperin Serahkan Mesin Daur Ulang Sampah dan Mesin Penjernih di Lirboyo

 

Sementara itu, di sektor digital Kemperin telah menjalankan Lifeskill Program dan Pesantren Animation Center (PAC). Lifeskill Program merupakan kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam pengembangan potensi kreatif para santri maupun alumni yang terpilih dari beberapa ponpes untuk menjadi seorang profesional di bidang seni visual, animasi dan multimedia sesuai standar industri saat ini.

“Sedangkan, kegiatan PAC untuk menyediakan wadah bagi para santri kreatif, yang telah mendapatkan Lifeskill Program agar terus memproduksi karya digital animasi dan multimedia sehingga tercipta keberlanjutan program sebelumnya yang telah diberikan,” katanya.

Selanjutnya, guna mendorong penumbuhan industri kecil dan menengah (IKM) di era revolusi industri 4.0, Kemperin juga telah merilis program E-Smart IKM. Program ini dapat diaplikasikan dalam kegiatan Santripreneur. “Program E-Smart IKM memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk itu, santri milenial perlu memanfaatkan,” kata Airlangga Hartarto.

Sejak diluncurkan pada Januari 2017, peserta yang telah mengikuti E-Smart IKM sebanyak 4.925 pelaku usaha dengan total omzet sudah melampaui Rp1,39 miliar. Kemenperin pun terus memacu tumbuhnya unicorn, pelaku startup yang memiliki nilai valuasi di atas US$ 1 miliar.

Berdasarkan sektornya, industri logam mendominasi hingga 40,99% dari total transaksi di E-Smart IKM. Kemudian disusul dengan industri fesyen sebesar 30,13%, industri makanan dan minuman 23,50%, industri herbal 1,22%, industri furnitur 0,90%, serta industri kreatif dan lainnya 0,72%.

“Kami proyeksi, pesertanya akan terus bertambah. Pada 2017, kami menargetkan ada 1.000 pelaku usaha menjadi peserta E-Smart IKM, ternyata antusiame dari para industri kecil sangat besar hingga realisasinya mencapai 1.730 IKM, kemudian pada 2018 terealisasi sebanyak 3.195 IKM,” paparnya. (njs/antara/beritasatu/foto:beritalima)

 

Baca juga:

Bersama Kemenperin, Bank Indonesia Ikut Kembangkan Program Santripreneur

 


Back to Top