Penelitin ICRS Lakukan Riset Kebangkitan Islam Lewat Metode Literasi Pendidikan Sains

gomuslim.co.id – Sebagai salah satu negara berpenduduk Muslim terbesar, Indonesia kini tengah menuju puncak kebangkitan Islam., sehingga bisa merangkul ranah masyarakat yang lebih luas. Hal tersebut juga mencerminkan kebangkita Islam menuju ke era Islam Medern.

Namun ditengah menjamurnya semangat masyarakat Muslim Indonesia untuk tetap menggaungkan nama Islam, beberapa aspek justru terlewatkan, seperti misalnya aspek ilmu pengetahuan. Literasi SAINS sebagai ujung tombak ilmu pengetahuan masih tertinggal.

Berdasarkan data TIMMS pada tahun 2015, literasi SAINS di Indonesia menduduki level terendah di antara 40 Negara di dunia. Data tersebut banyak bersumber di kalangan anak-anak Muslim.

Berangkat dari fenomena itulah, sekelompok peneliti di bawah naungan ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies) mengadakan penelitian PEER (Penguatan Pendidikan SAINS di sekolah-sekolah Islam Indonesia).

 

Baca juga:

Arab Saudi Akan Luncurkan Satelit ke-16 ke Luar Angkasa


Penelitian yang digagas oleh Askuri, seorang doktor lulusan ICRS Universitas Gadjah Mada ini dilangsungkan di tiga wilayah, yakni Jogjakarta, Lamongan, dan Malang. Seluruh tim peneliti terkumpul melalui perekrutan terbuka.

Penelitian ini merumuskan penerapan SAINS di sekolah-sekolah Islam, serta interegasi wacana keagamaan dalam pengajaran SAINS yang dapat bermanfaat bagi para siswa.

"Kita belajar dari sejarah, bahwa di abad pertengahan ada banyak sekali penemu penemu Muslim. Kita lihat pula sekarang, Indonesia termasuk masyarakat Muslimnya sangat besar namun literasi SAINS-nya rendah," ungkap Askuri ditemui di sela workshop tim peneliti di Hotel Zam Zam, Batu, Malang, Jumat (22/2/2019).

Hasil yang didapat berdasarkan analisis sejarah pendidikan, sempat terjadi polemik bahwa pendidikan Pesantren tidak lagi cocok untuk diterapkan di Indonesia, karena hanya mengajarkan ilmu Agama.

"Saya teringat dulu ketika menempuh pendidikan di Pesantren, ada salah satu doktrin yang dianut tentang Ilmu keagamaan dan Ilmu keduniaan. Ilmu Agama wajib bagi setiap orang, namun untuk Ilmu keduniaan, jika sudah ada satu umat Muslim yang mempelajari ilmu tersebut, maka gugur kewajiban umat Islam lainnya untuk turut mempelajarinya.

Doktrin tersebut sangat kuat, sehingga asumsi saya, itulah alasan mengapa mereka kuat menganut ilmu keagamaan tanpa melirik Ilmu SAINS," tegas Askuri

Melalui penelitian ini pula, Askuri dan tim ingin membuktikan bahwa Islam sesungguhnya sangat potensial untuk mendukung pembelajaran SAINS. Target utama nantinya adalah menghasilkan sebuah modul pembelajaran SAINS yang telah terinteregasi dengan nilai Islam.

Kalau belajar SAINS adalah baik, maka sama halnya dengan kita belajar Agama. Semakin para siswa paham tentang Islam, maka harusnya telah siap belajar SAINS," ujar Askuri.

Masing-masing wilayah penelitian diwakili langsung oleh 3 peneliti. Pada tahun pertama, penelitian dipusatkan untuk mengetahui bagaimana pendidikan SAINS diajarkan di sekolah-sekolah Islam.

Para peneliti pun dituntut untuk menghasilkan jurnal ilmiah berdasarkan laporan yang mereka dapat, dan yang menarik perhatian, meskipun penelitian ini bergerak di bidang SAINS, namun tidak semua peneliti mempunyai latar belakang sebagai pendidik SAINS.

"Saya berharap riset ini memberi suatu inspirasi pada sekolah-sekolah Islam, bahwa kita tidak perlu takut untuk selalu berkreasi dan berinovasi dalam banyak hal. Baik dalam kurikulum maupun metode pembelajaran, sehingga sekolah-sekolah Islam lebih giat belajar SAINS yang dimotivasi oleh nilai Agama," pungkasnya. (hmz/laduni/dbsfoto: ilustrasi)

 

Baca juga:

Jakarta Islamic Centre Akan Gelar Kontes Robot Tingkat Pelajar 


Back to Top