Minimalisir Kecelakaan Pendakian, Ini Usul APGI

gomuslim.co.id - Dalam empat tahun terakhir, angka kecelakaan pendakian mengalami peningkatan. Kecelakaan pendakian tersebut disebabkan karena fisik pendaki yang tak mumpuni, perlengkapan yang tak memadai, kingga kondisi alam yang mengancam keselamatan.

Mantan Ketua Umum Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) periode 2016-2019, Ronie Ibrahim mengatakan, gunung sebenarnya sangat berpotensi dijadikan sebagai salah satu destinasi petualangan. Namun tak sembarang gunung dapat langsung didaki dan dijadikan destinasi wisata.

“Ada beragam syarat yang harus dipenuhi demi keselamatan wisatawan dan terjaganya kelestarian lingkungan. Jika ingin dijadikan obyek wisata atau destinasi wisata tentu perlu pengelolaan dan regulasi tertentu. Apalagi jika Gunung tersebut berada dalam area konservasi dan hutan lindung. Tempat Wisata harus memenuhi 3A (Akses, Amenitas dan Atraksi), termasuk gunung,” tutur Ronie.

Berdasarkan pengamatan, Ronie menilai, gunung-gunung yang belum dikelola tentu saja tidak dilengkapi dengan rute jalan yang baik, petunjuk yang baik, shelter atau rumah singgah yang memadai, petugas gunung dan pemandu gunung yang kompeten di gunung tersebut, dan lain sebagainya. Hal inilah yang berbahaya bagi para wisatawan.

 

Baca juga:

Mendaki Gunung Wajib Punya Sertifikat Pelatihan, Begini Cara Mendapatkannya

 

Kebanyakan gunung di Indonesia berupa hutan hujan tropis hingga hutan sub alpine. Tentu saja untuk menjadikannya objek wisata atau destinasi wisata perlu pengaturan dan pengelolaan, karena memang ada resiko berkegiatan dialam bebas, di hutan apalagi di ketinggian. Ada faktor cuaca dingin, hujan, angin, risiko gunung lainnya.

Menurutnya, para penggiat, praktisi, akademisi wisata gunung selama 5 tahun terakhir bersama pemerintah mengupayakan berbagai hal untuk menyikapi kecepatan perkembangan dan perubahan di bidang kepariwisataan termasuk wisata alam.

Pada tahun 2016 Kementerian Pariwisata bahkan membentuk Tim Percepatan Pengembangan Wisata Petualangan yang salah satunya berkonsentrasi pada masalah wisata pendakian gunung.

Selain itu juga sudah diperhatikan sebagai segmen Wisata Petualangan Nusa, Wisata Petualangan Tirta (Arung Jeram, dll) dan Wisata Petualangan Dirga (Paralayang, Paramotor, dll). Berbagai profesi baru dibidang wisata petualangan pun ditetapkan Pemerintah sebagai Profesi terkompetensi BNSP, termasuk Pemandu Wisata Gunung.

Berbagai upaya lain juga dilakukan. Salah satunya para pelaku, penggiat dan praktisi sejak 5 tahun terakhir sudah harus menjadi profesional jika ingin mengkhususkan dirinya pada bidang kepemanduan wisata gunung.

Adapun APGI yang lahir sejak 2016 dan saat ini sudah mensertifikasi 818 Pemandu Gunung Bersertifikasi di hampir seluruh provinsi yang memiliki gunung-gunung dengan kunjungan wisata tinggi.

Untuk menekan jumlah kecelakaan dalam pendakian, lanjut Ronie, perlu segera dipercepat interkoneksi para stakeholder terkait untuk meregulasi objek–objek wisata dan destinasi wisata yang menjadi sasaran kunjungan pelancong dan wisatawan. Terutama pada bentang-bentang wisata alam yang memang mengandung risiko.

Tak hanya itu, berbagai upaya lain juga dilakukan. Salah satunya para pelaku, penggiat dan praktisi sejak 5 tahun terakhir sudah harus menjadi profesional jika ingin mengkhususkan dirinya pada bidang kepemanduan wisata gunung.

Adapun, APGI yang lahir sejak 2016 dan saat ini sudah mensertifikasi 818 Pemandu Gunung Bersertifikasi di hampir seluruh provinsi yang memiliki gunung-gunung dengan kunjungan wisata tinggi.

“Untuk menekan jumlah kecelakaan dalam pendakian, perlu segera dipercepat interkoneksi para stakeholder terkait untuk meregulasi objek–objek wisata dan destinasi wisata yang menjadi sasaran kunjungan pelancong dan wisatawan. Terutama pada bentang-bentang wisata alam yang memang mengandung risiko,” papar Ronie. (nat/kompas/dbs/foto:inovasee)


Back to Top