Warga Sindangsari Lebak-Banten Mulai Rasakan Manfaat Sumur Wakaf ACT 

gomuslim.co.id – Warga Desa Sindangsari, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten bersama-sama memelihara tujuh titik Sumur Wakaf yang ada di desa tersebut. Ketujuh Sumur Wakaf ini kerap digunakan warga untuk mendapatkan air bersih.

Lurah Desa Sindangsari, Busro bercerita ketika ia membantu pembangunan Sumur Wakaf di desanya sekitar dua tahun lalu. Menurunya, sedari awal warga desanya sulit mengakses air bersih.

“Di sini warga mengandalkan air itu dari sungai. Sementara kalau kemarau panjang, air di sungai itu bisa kering. Kalau sudah begitu, kita mengandalkan air dari bukit. Itu pun debit airnya kecil. Kadang saya juga tidak mandi sampai dua hari, yang penting wudu,” ujar Busro.

Ketika masing-masing sumur dibangun oleh Global Wakaf, Busro turut membantu menetapkan lokasi dan fasilitas Sumur Wakaf berdasarkan prioritas warga. “Misalnya ada satu kampung, mereka tidak butuh MCK, mereka butuhnya air untuk di masjid. Supaya ada rasa memiliki, ya kita buat di sana aliran air beserta kerannya di masjid. Jadi biasanya dulu wudu dikobok, sekarang pakai keran. Jadi lebih higienis,” jelas Busro.

Sejak Sumur Wakaf berfungsi dua tahun lalu, Busro dan warga desa gotong-royong memelihara sumur tersebut. Mereka bahkan membangun Paguyuban Pengurusan dan Pengelolaan Air di masing-masing kampung untuk merawat tujuh Sumur Wakaf yang ada.

Salah satunya Sumur Wakaf di Kampung Teras, Desa Sindangsari. Untuk pengelolaan dan perawatan Sumur Wakaf di kampung ini, paguyuban tersebut menghimpun sumbangan dari masyarakat sebesar Rp 10.000 per bulan.

 

Baca juga:

ACT Atasi Krisi Air di Daerah Terpencil ini

 

Aslia, salah seorang tokoh masyarakat di Kampung Teras, membenarkan hal ini. Dari iuran yang dikumpulkan rutin per bulannya, sekitar Rp 200.000 digunakan untuk membayar tagihan listrik dari pompa air. Terkadang uang urunan dari masyarakat tersebut juga digunakan untuk perawatan lainnya.

“Sempat mesin pompa itu rusak dan setelah musyawarah dengan masyarakat, hasilnya alhamdulillah kita sepakat untuk urunan. Biaya belinya lagi mencapai sekitar Rp 4.700.000,” ujar Aslia.

Selain itu, beberapa warga juga diberikan jadwal bergantian untuk mengecek atau membersihkan air berdasarkan jadwal ronda, yang diikuti lima belas orang. Satu orang di jadwal tersebut, akan bekerja selama satu kali dalam sehari. Dengan demikian menurut Aslia, kendala operasional Sumur Wakaf dapat cepat diketahui dan diatasi bersama-sama.

“Karena air itu kan, harus diperiksa, ada bocornya, ada sampahnya mungkin, harus diperiksa benar-benar supaya air itu lancar sampai masjid dan digunakan oleh masyarakat. Jadi bukan dibebankan kepada satu orang saja. Jadi kita sama-sama, di mana ada kendala, kita sama-sama mengetahui apa kendalanya, lalu kita perbaiki bersama-sama,” imbuh Aslia.

Menurutnya, masyarakat akan menjaga Sumur Wakaf semaksimal mungkin karena maslahat yang didapat cukup besar. Melihat besarnya manfaat Sumur Wakaf ini pula, Aslia merasa berterima kasih kepada wakif dan Global Wakaf. Ke depannya, ia berharap akan ada lebih banyak Sumur Wakaf di desanya. Sehingga, manfaat yang didapat akan dinikmati warga lebih luas lagi.  (njs/act)

 

Baca juga:

ACT Ajak Masyarakat Redam Krisis Kemanusiaan Palestina


Back to Top