Perkuat Potensi Wisata Halal, Pariwisata Tanjung Balai Karimun Hadir di Festival Barongsai 2019

gomuslim.co.id – Potensi wisata halal Indonesia menjadi perhatian banyak pihak. Salah satunya Tanjung Balai Karimun yang akan memanfaatkan Festival Barongsai 2019 untuk mengangkat potensi wisata, termasuk wisata halal. Apalagi, Tanjung Balai Karimun memiliki peninggalan sejarah berupa masjid. Festival Barongsai 2019 akan digelar 26 sampai 27 April 2019.

Di Tanjung Balai Karimun, nuansa religi akan terasa sangat kuat. Oleh karena itu, salah satu destinasi yang direkomendasikan untuk dikunjungi adalah Masjid Haji Abdul Ghani. Masjid ini disebut sebagai tertua di Karimun. Karena, dibangun pertengahan abad 19, semasa Kerajaan Riau-Lingga. Pembangunannya atas perintah Sultan Abdul Rahman Muazzamsyah di tahun 1883-1911. Pembangunannya oleh Raja Abdul Ghani bin Raja Idris bin Raja Haji Fisbillilah.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani mengatakan budaya Melayu sangat kental di Karimun. Karena itu, kata dia, wajar bila wilayah ini banyak memiliki cagar budaya Masjid. Meski usianya tua, namun fisik bangunan dan keasliannya terjaga. Posisi Masjid tersebut tentu jadi daya tarik utama wisata halal di Karimun. Sekaligus, sisi lain unik dari Festival Barongsai.

Bangunan Masjid Haji Abdul Ghani masih otentik. Meski berukuran sedang, ruang utamanya luas dan bisa menampung 100 jamaah. Lantaran berada di Pulau Buru, Masjid ini juga kerap disebut sebagai Masjid Buru. Bangunan itu dilengkapi 4 pilar utama setinggi 5 Meter sebagai penyangga bangunannya. Yang menarik, kabarnya arsitektur Masjid Haji Abdul Ghani berasal dari Tionghoa. Salah satu penandanya berupa menara masjid yang berbentuk kerucut.

 

Baca juga:

Indonesia-Malaysia Bersaing Ketat Raih Peringkat Pertama Destinasi Wisata Halal Dunia

 

Menaranya sepintas seperti ruang pembakaran hio. Uniknya, lubang ventilasinya terbuat dari batu giok biru lengkap dengan ukiran khas Tiongkok. Tinggi menara ini sekitar 21 Meter dengan diameter 4 Meter dan masih difungsikan untuk mengumandangkan adzan. Di depan masjid, terdapat perigi atau sumur sebagai tempat berwudhu. Perigi dilengkapi 4 nak tangga yang juga masih otentik.

"Keberadaan Masjid Haji Abdul Ghani ini mengagumkan. Bukan hanya bentuk arsitekturnya, ornamen dari bagunannya masih asli. Ahli waris Masjid Haji Abdul Ghani sengaja mempertahankan keasliannya. Jadi, wisatawan masih bisa menikmati suasana masa silam secara utuh di sana," terang Rizki.

Selain Masjid Haji Abdul Ghani, Karimun juga memiliki Masjid Al Mubarak. Arsitekturnya klasik gaya Melayu. Lokasinya berada di Meral, Karimun. Masjid ini dibangun pada masa Raja Usman Bin Raja Ishak. Amir Karimun ke-3 dengan gelar Engku Andak (1301 Hijriah). Masjid Al Mubarak bisa menampung 1.000 jamaah.

Pada sisi lain kompleks masjid, terlihat sisa bangunan rumah tinggal Amir Karimun. Pada masanya, Masjid Al Mubarak tergolong maju dan mewah. Dari arsitektur, konstruksi, hingga materialnya tergolong modern. Sebab, dijumpai serpihan keramik dengan pabrikan asal Prancis.

Untuk diketahui, Masjid Al Mubarak kerap menjadi destinasi pilihan wisatawan Singapura dan Malaysia. Dan itu alasan tertentu mengapa wisatawan dua negara itu memilih Masjid Al Mubarak. Wisatawan asal Singapura dan Malaysia banyak yang masih kerabat dengan Amir Karimun dan Amir Pulau Buru. (fau/kemenpar/detiktravel/dbs: foto: travelingyuk)

 

Baca juga:

Bandung Barat Fokus Kembangkan Wisata Halal


Back to Top