#Ramadhan2019

Green Ramadhan, Kampanye Rawat Bumi dari Komunitas Muslim di Minnesota AS

gomuslim.co.id - Sukarelawan di dapur Clubhouse Islamic Center of Minnesota (ICM) mencuci piring dan mangkuk logam untuk digunakan pada makan malam berikutnya. Meski membutuhkan usaha membersihkan yang lebih besar dibandingkan menggunakan plastik sekali pakai, penggunaan peralatan makan logam dinilai menimbulkan sedikit sampah selama Ramadhan.

Direktur Club ICM, Sally Hassan mengatakan gaya hidup peduli lingkungan tersebut telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Mereka memutuskan untuk menyediakan peralatan makan dari stainless steel.

"Orang-orang terbiasa nyaman dengan menggunakan piring plastik atau kertas. Mereka ingin jalan keluar yang mudah," tutur Hassan seperti yang dilansir dari publikasi Bradenton Herald, Jumat, (24/05/2019).

Namun, Club ICM tidak sendiri masjid-masjid dan pusat-pusat Islam di Minnesota, Amerika Serikat (AS) semakin beralih ke pendekatan minim limbah selama bulan Ramadhan. Penyelenggara buka puasa bersama di seluruh negara bagian melakukan berbagai cara untuk memastikan tidak ada kantong sampah yang meluap ataupun tumpukan botol pastik setelah acara selesai. Sisa makanan tidak habis juga dipastikan tidak ada.

 

Baca juga:

Kurangi Penggunaan Plastik, Masjid di Inggris Kampanye Go Green selama Ramadhan

 

Konsumen Amerika diketahui membuang lebih dari sepertiga makanannya, menurut Departemen Pertanian AS. Badan Perlindungan Lingkungan AS memperkirakan, sisa makanan yang berkontribusi atas 22 persen dari seluruh sampah telah dikirim ke tempat pembuangan sampah pada 2015. Jumlah tersebut melebihi bahan sampah lainnya.

Berangkat dari isu tersebut, Muslim di Minnesota membentuk tim hijau untuk secara bertahap beralih ke kebiasaan makan ramah lingkungan.

“Sebagai Muslim, mereka harus menjadi pelayan untuk Bumi ini. Kamu tidak dapat menjadi Muslim yang taat tapi tidak merawat planet bumi," pungkasnya.

Sementara itu, masyarakat Islam Amerika Utara yang berbasis di Indiana sudah menjangkau masjid dan pusat-pusat umat Muslim untuk bergabung dengan kampanye 'Menghijaukan Ramadhan'. Mereka mengajak masyarakt untuk mengadopsi praktik seperti menghindari produk sekali pakai dan tidak menyisakan makanan. Mereka juga memberikan khutbah tentang kewajiban Islam melestarikan dan melindungi lingkungan.

Di luar masjid, beberapa restoran juga telah mengimplementasikan Ramadhan Hijau. Ruhel Islam, pemilik Gandhi Mahal, sebuah restoran India atau Bangladesh di Minneapolis adalah salah satunya. Ia telah mengikuti pendekatan tanpa limbah sejak membuka restorannya pada 2008.

Makanan prasmanan buka puasa di Gandhi Mahal didominasi hidangan yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai kompos. Penyajian tiap orang dibuat dalam porsi kecil untuk menghindari sampah sisa makanan. Kemudian, minyak goreng yang digunakan pun dapat didaur ulang menjadi biodiesel.

Banyak ramuan yang digunakan di Gandhi Mahal ditanam di fasilitas aquaponic di ruang bawah tanah restoran.

"Saya tumbuh di Bangladesh, di sebuah komunitas yang menanam makanannya sendiri dan percaya untuk mengurangi jejak karbon," katanya.

Pusat-pusat Islam sudah mengadopsi praktik ini, mulai dari penggunaan tanpa plastik, pembuatan kompos dari sisa makanan hingga memilah sampah daur ulang. Minneapolis Building of Islam, organisasi yang melayani sekitar 300 tamu tiap tahun saat malam penggalangan dana juga sudah melakukannya.

Koordinator Minneapolis Building of Islam, Jessica Wayman mengatakan, pihaknya memilih untuk melayani tamu secara prasmanan. Tapi, porsi yang dihidangkan biasanya dalam jumlah sedikit dan memungkinkan mereka untuk menambah porsi apabila makanan sebelumnya sudah habis.

“Organisasi kami juga menyedikan bahan makanan yang 100 persen kompos dan tidak ada penggunaan botol air plastik. Jika makanan ada yang tersisa, pihaknya akan mengemasnya untuk para tamu. Mereka dapat memakannya untuk sahur, atau berbuka puasa di keesokan hari," lanjut Wayman.

Praktik konsumsi yang lebih hijau ini banyak didorong oleh kondisi global. Situasi di dunia semakin mengerikan dengan isu kekurangan air, kerusakan hutan dan laut hingga ancaman terhadap satwa liar. Sehingga, banyak organisasi yang mulai meranah ke gaya hidup ramah lingkungan. (nat/bradentonherald/dbs/foto:radarjogja)

 

Baca juga:

Masjid di Inggris Ini Buka Bank Makanan untuk Warga Dhuafa


Back to Top