#Lebaran2019

Rayakan Syawalan, Warga Kampung Jaten Cilik Semarang Berebut Kupat Tauge

gomuslim.co.id - Sebagai bentuk rasa syukur merayakan bulan Syawal, warga di Kampung Jaten Cilik, Pedurungan Tengah, Kota Semarang merayakan Lebaran Ketupat atau Kupat Jembut. Diawali kembang api dan petasan di depan Masjid Rudhotul Muttaqiin usai sholat subuh, para tokoh masyarakat dan agama membawa baki berisi ketupat. Anak-anak yang sudah menanti langsung datang berebut berusaha mendapatkan ketupat yang juga disisipi uang.


Kemudian, usai ketupat habis di baki, suara tiang listrik diketuk terdengar dari kejauhan dan menarik perhatian. Anak-anak berlarian menghampirinya dan kembali berebut ketupat yang dibagikan warga.

Dalam tradisi Syawalan ini memang warga-warga di Jateng Cilik menyiapkan Kupat Jembut alias ketupat berisi tauge sambal kelapa beserta uang untuk dibagikan kepada anak-anak.

 

Baca juga:

Ini Nilai Sakral Tradisi Lebaran Topat di Lombok NTB

 

Uniknya ada juga warga yang mengisi ketupat dengan uang receh. Anak-anak yang berebut pun gembira dan saling bersaing mendapatkan ketupat serta uang terbanyak. Kupat Jembut sebenarnya hanya salah satu sebutan untuk kuliner khas Syawalan di Semarang itu. Nama lain yang lebih nyaman didengar yaitu Kupat Tauge.

Salah satu tokoh masyarakat, Munawir (45) mengatakan tradisi bagi bagi ketupat itu sudah ada sejak tahu 1950-an setelah warga asli Jaten Cilik kembali ke kampungnya pasca mengungsi akibat perang dunia kedua.

"Sudah ada sejak tahun 1950-an, pulang ngungsi perang dunia," tutur Munawir di Kampung Jaten Cilik, Rabu (12/06/2019).

Munawir menceritakan, kala itu warga hidup dalam kesederhanaan. Namun, karena tetap ingin mengungkapkan rasa syukur setelah melewati bulan Ramadhan, maka digelar syukuran sepekan setelah Idul Fitri atau Syawalan dengan membagikan Kupat Tauge tanpa opor.

"Itu simbol kesederhanaan. Jadi adanya cuma tauge, kelapa, dan lombok, jadi isinya ya tauge sama sambal kelapa. Jadi menyampaikan Lebaran Cilik (Syawalan) ini tidak harus dengan opor," jelasnya.

Tradisi tersebut memang dilakukan orang dewasa dan diperuntukkan untuk anak-anak. Sehingga para dewasa menyiapkan ketupat untuk dibagikan kepada generasi yang lebih muda.

"Bada Syawal ini memang diwujudkan oleh orang dewasa untuk anak-anak," pungkasnya.

Terkait penamaan, Munawir mengakui memang banyak versi penyebutan, namun karena kampung Jaten Cilik lebih dikenal dengan religiusnya maka lebih nyaman menyebut ketupat khas itu dengan sebutan Kupat Tauge daripada Kupat Jembut.

"Karena kampung ini relijius, namanya nyebutnya Kupat Tauge. Tapi sebutan orang macam-macam," kata dia.

Tradisi itu tidak hanya di Kampung Jaten Cilik. Salah seorang warna Pedurungan Tengah mengaku di daerahnya juga menggelar hal serupa termasuk di daerah Sendangguwo atau daerah yang berada di sisi Timur Kota Semarang.

"Sudah lama sekali tradisi Kupat Jembut ini. Warga asli sini tahu semua," pungkas Titik. (nat/detik/dbs/foto:jalandamai)

 

Baca juga:

Unik, Ada Kue Lopis Raksasa di Tradisi Syawalan Warga Pekalongan


Back to Top