Pakar Ekonomi Syariah: Indonesia Masih Jadi Pasar Konsumen Produk Halal Terbesar Dunia

gomuslim.co.id – Indonesia merupakan pasar konsumen halal terbesar di dunia. Hal ini karena populasi muslim di Tanah Air yang merupakan yang terbesar. Namun, kenyataan tersebut tidak lantas menjadikan Indonesia sebagai Negara produsen halal terbesar.

Demikian disampaikan Pakar Ekonomi Syariah, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec dalam acara Monday Forum STEI Tazkia bertema “Urgensi Sertifikasi Halal dalam Mendukung Industri Halal di Indonesia”, Senin (17/06/2019). Ia menyebut produsen halal dunia saat ini masih dikuasai Negara-negara yang bukan mayoritas muslim.

Dewan Pembina Yayasan Tazkia Cendekia ini menyebut sebenarnya Islam mempunyai tiga ibadah yang secara langsung berdampak pada spiritual dan finansial. Hanya saja, umat Islam belum memaksimalkan potensi ini dengan baik. Sehingga diserobot tetangga yang justru bukan muslim.

Pertama adalah ibadah Ramadhan. Selama sebulan penuh, Ramadhan menjadi bulan mulia, dimana umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa. Tetapi yang mendapatkan barokah finansial dari Ramadhan ini seluruh dunia.

“Mulai dari makanan tiket, komunikasi, transportasi, rekreasi, semuanya dikuasai oleh kalangan non muslim. Saya suka bertanya ke ibu-ibu, kalau puasa dan lebaran, kue kering dalam kaleng yang paling terkenal apa? Khong Guan. Atau bapak-bapak suka minum minuman segar. Apa yang terkenal? Marjan, Nata de Choco, dan masih banyak lagi,” jelasnya.   

Ibadah kedua yang berdampak secara finansial adalah haji. Menurutnya, jika umat melihat komponen haji, maka ada peluang hingga 1000 triliun dari ibadah ini. Mulai dari transportasi pesawat, bus, akomodasi hotel, tenda haji dan lainnya. Semua hampir dikuasai produsen non muslim.

“Dua ibadah ini, Ramadhan dan Haji, umat Islam hanya mendapat barokah spiritual Ramadhan, itu pun kalau dapat. Barokah finansial dan ekonominya pergi sebagian besar ke tetangga, ke luar umat Islam. Jadi kita dikasih sesuatu yang sangat luar biasa, tapi kita tidak pandai mensyukuri. Harusnya kita dapat dua, barokah spiritual dan finansial,” ungkapnya.

 

Baca juga:

Luncurkan Pusat Studi Halal, STEI Tazkia Teken MoU dengan BPJPH

 

Selanjutnya, ibadah besar ketiga yang berdampak secara ekonomi adalah halal. Industri ini, kata dia, jauh lebih besar dari Haji dan Ramadhan. Karena setiap hari umat membutuhkan konsumsi makanan dan minuman.

“Mencari rejeki halal adalah satu kewajiban setelah melaksanakan kewajiban yang lima (shalat). Melakukan research tentang halal merupakan bagian dari kewajiban halal tadi. Sayangnya, kita belum menjadi bagian aktif dalam halal industri halal ini. Kita masih kalah dari Thailand yang mengklaim dirinya sebagai kitchen of the world atau dapurnya dunia,” katanya.

Untuk itu, saat ini tugas umat bersama adalah bagaimana mempromosikan tentang halal, penelitian halal, studi tentang halal, dan lebih penting lagi, bagaimana nantinya harus mulai masuk pada halal produk.

“Kita harus masuk kepada halal industry, halal network, dan kita harus menjadi bagian yang kuat di sana. Kita bisa masuk di sektor makanan, minuman, retail, maupun resto. Karena kalau tidak, orang lain yang akan masuk. Pemain-pemain besar seperti Indofood, Mayora kini menguasai sektor ini,” tuturnya.

Syafii pun mengajak untuk tidak berhenti hanya di studi dan penelitian saja, tetapi harus melangkah lagi ke ranah industri.

“Memang tidak harus muluk-muluk, mungkin misalnya mulai dari air minum. Lalu ke produk lain seperti keripik, kacang-kacangan, sambal, kecap. Kemudian masuk ke beras, minyak moreng, gula dan lainnya. Sembilan bahan pokok lah intinya,” imbuhnya. (jms)

 

 

Baca juga:

Kepala BPJPH Jelaskan Varian Tarif Layanan Sertifikasi dan Keterangan Produk Non Halal


Back to Top