NU dan Muhammadiyah DiuSulkan Untuk Raih Nobel Perdamaian di Oslo Norwegia

gomuslim.co.id Budayawan Indonesia sekaligus Rohaniawan Katolik Franz Magniz Suseno, menegaskan dukungannya kepada NU dan Muhammadiyah untuk dapat meraih hadiah Nobel Perdamaian. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah diusulkan untuk meraih Nobel Perdamaian dalam seminar antaragama yang digelar di Oslo, Norwegia. Sejumlah tokoh turut hadir yaitu Azyumardi Azra, Romo Franz Magniz Suseno, dan Yenny Wahid. 

"NU dan Muhammadiyah merekatkan bangsa Indonesia yang sangat majemuk, bahkan jauh sebelum kemerdekaan. Kiprah NU dan Muhamadiyah tersebut tak hanya dirasakan oleh mayoritas kelompok muslim, tapi juga oleh minoritas non-muslim," kata Romo Magniz.

 

Baca juga:

Kemenhan Gandeng NU Bentuk Dewan Keamanan Nasional

 

Sebelumnya, pada Januari 2019 lalu dua organisasi Islam terbesar Indonesia ini telah dinominasikan sebagai penerima penghargaan Nobel Perdamaian. NU dan Muhammadiyah justru dianggap memberikan perlindungan bagi kelompok minoritas.

"Sebagai orang Katolik dan bagian dari kelompok minoritas saya mengakui NU dan Muhammadiyah meskipun jadi mayoritas tidak pernah menjadi ancaman bagi kami kelompok minoritas. Sebaliknya, kehadiran kedua organisasi ini di tengah masyarakat Indonesia memberikan rasa aman dan jaminan bahwa nilai-nilai pluralisme dan toleransi akan tetap terjaga dan tumbuh di Indonesia," ungkapnya.

Sejak 2002, NU dan Muhammadiyah telah lebih banyak melakukan melakukan tindakan serius untuk melawan citra Islam yang keras dan tidak toleran, dan berupaya membangun citra Islam yang damai dan melindungi seluruh umat beragama lainnya.

Menghadapi pertanyaan dari peserta yang mengkuatirkan keadaan Indonesia yang dinilai semakin tidak kondusif dengan banyaknya kelompok Islam Radikal, Yenny, Romo Magniz, dan Azra sependapat bahwa kekhawatiran tersebut wajar, namun selama Indonesia masih memiliki organisasi Islam yang toleran dan damai seperti NU dan Muhammadiyah, maka Indonesia akan selalu utuh dan damai. (nov/dbs/medcom)

 

 

Baca juga:

Ikuti Jejak NU dan Muhammadiyah, Persis Garap Film Layar Lebar


Back to Top