Rancang Alat Pendeteksi Makanan Halal dan Haram, Mahasiswa Ini Dapat Hibah Kemenristek Dikti

gomuslim.co.id – Kelompok mahasiswa asal Langsa, Aceh berhasil merancang alat yang dapat mengidentifikasi makanan halal dan haram. Berkat temuan tersebut, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Fisika Universitas Samudra (Unsam) ini mendapat hibah dari Kemenristek Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Bidang Karya Cipta.

Pembuat alat tersebut terdiri dari Muammar Khadafi selaku ketua, serta dua anggota yakni Saparudin dan Hijrahanisa dengan dosen pembimbing, Rachmad Almi Putra M Sc.

Menurut Koordinator Prodi Fisika Rahmawati MS, kreativitas mahasiswa wajib dihargai. Untuk itu pihaknya mengajuka Hak Paten terhadap rancangan tersebut.

Rancang bangun E-Nose sistem jaringan syaraf tiruan untuk identifikasi makanan halal-haram berbasis Arduino Nano ini telah mendapat Hak Paten dari Kementrian Hukum dan HAM RI dengan Nomor EC00201942363 tanggal 14 juni 2019, ditandatangani a/n Menteri Hukum dan HAM Direktur Jendral Kekakayaan Intelektual dr. Freddy Harris, SH LLM ACCS.

Muammar Khadafi yang juga mahasiswa teknik ini menjelaskan alat dengan sistem e-Nose tersebut memiliki beberapa keunggulan, diantaranya dapat mendeteksi makanan berupa halal atau haram, membedakan lemak babi, sapi dan ayam.

Ia menyebutkan alat ini bekerja lebih cepat untuk membedakan jenis makanan halal dan haram dengan persentase hasil identifikasi makanan sangat akurat, dan mudah untuk dioperasikan oleh masyarakat. “Alat ini juga sebagai solusi untuk menghindari makanan yang haram bagi umat Muslim di Indonesia,” jelasnya.

Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, tentu makanan yang dikonsumsi hanya produk makanan halal. Namun, sejumlah produk makanan diduga tidak halal masih banyak tersebar di kalangan masyarakat.

 

Baca juga:

Dorong Penguatan Industri Halal, BI dan IHLC Jalin Kesepakatan di Lima Area

 

Dia mengatakan terutama produk makanan berbahan dasar daging (Hafiz, Mohamed, & Ab, 2014). Dalam beberapa tahun terakhir teknologi berupa Electronic Nose (E-Nose) menjadi perhatian khusus bagi para peneliti dalam mengidentifikasi produk makanan, katanya.

Dia mencontohkan seperti daging dikarenakan pengembangannya yang cepat, sederhana, murah dan dapat divariasikan sistemnya. E-Nose adalah salah satu instrumen elektronik yang dapat berfungsi untuk meniru konsep kerja hidung manusia sebagai pendeteksi dan menganalisis aroma (Schnabel et al., 2015).

Cara kerja sistem E-Nose dibangun atas larik sensor gas yang dikenal dengan sistem olfaktori elektronik, berupa sinyal yang kemudian dirubah menjadi sebuah pola yang mewakili masing-masing aroma. Dia mengatakan dengan menggunakan bantuan sebuah aplikasi, dapat dilihat perbandingan dan klasifikasi aromanya, bahkan identifikasi analisis E-Nose dapat dikombinasikan dengan Jaringan Syaraf Tiruan (JST).

Salah satunya yaitu Backpropagation (Pharmayeni & Zulhamidi, 2017) Anggara (2017) melakukan sebuah penelitian mengenai deteksi daging sapi menggunakan E-Nose berbasis Bidirectional Associative Memory (BAM).

Berdasarkan penelitian di atas itulah, mahaaiswa Teknik Prodi Fisika Unsam ini tertarik melakukan sebuah penelitian baru mengenai “Rancang Bangun E-Nose Sistem Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation Untuk Identifikasi Halal Haram Berbasis Arduino Nano”.

Di mana dalam penelitian ini akan digunakan sensor gas tipe MQ yang meliputi MQ-135, MQ-2, MQ-3, MQ-4, MQ-5 dan MQ-6. Dalam penelitian ini diharapkan sistem E-Nose berjalan dengan baik dan data yang hasilkan memiliki tingkat akurasi yang tinggi, tandasnya. (jms/serambi)

 

Baca juga:

Inisiator Juleha Latih Sembelih Halal


Back to Top