Dirjen Bimas Islam Paparkan Potret Peningkatan Kualitas Layanan KUA

gomuslim.co.id – Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Muhammadiyah Amin menyampaikan sejumlah upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas Kantor Urusan Agama (KUA). Beberapa upaya tersebut yakni dengan mengurangi gratifikasi, revitalisasi gedung KUA melalui dana SBSN, hingga menciptakan inovasi layanan.

Menurutnya, dalam lima tahun terakhir Kemenag melakukan terobosan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas layanan KUA Kecamatan. Menurutnya, peningkatan kualitas pelayanan di KUA bisa dilihat setidaknya dari tiga indikator, yakni: KUA yang semakin bersih, melayani, serta bebas dari gratifikasi dan pungutan liar (pungli).

Guru besar ilmu hadis ini menyebutkan, upaya yang sudah dilakukan dalam mengatasi gratifikasi KUA ialah dengan optimalisasi penggunaan dana PNBP Nikah Rujuk dengan merevisi PP 47 Tahun 2004 menjadi PP 48 Tahun 2014, sehingga penghulu yang melaksanakan tugas pencatatan nikah di luar kantor mendapatkan honor dan transport.

"Alhamdulillah melalui pemberian honor dan transport gratifikasi dan pungli bisa ditekan. Indeks kepuasan masyarakat terhadap layanan KUA pada tahun 2018 mengalami peningkatan secara signifikan dari tahun 2016, yakni mencapai 80.40. Nilai itu jauh melebihi ekspektasi kami," ujarnya baru-baru ini.

Ia menambahkan, ada tiga layanan kita di KUA yang memperoleh nilai sangat tinggi dari Ombudsman RI, yaitu Legalisasi Kutipan Akta Nikah, Legalisasi Surat Keterangan Nikah Luar Negeri, dan Layanan Nikah di KUA. “Ketiga layanan tersebut masing-masing memperoleh skor 97.50. Nilai ini paling tinggi di semua produk layanan publik yang ada pada Kementerian Agama," katanya.  

Mantan Rektor IAIN Gorontalo ini menuturkan, SDM di KUA juga dioptimalisasi dengan masuknya penyuluh agama Islam menjadi bagian dari KUA, sehingga fungsi KUA tidak hanya memberikan pelayanan, tapi juga memberikan bimbingan kepada masyarakat Islam.

 

Baca juga:

Dirjen Bimas Islam: Penghulu Harus Siap Ditempatkan Di mana Saja

 

Dia menyebutkan, jumlah penghulu terus ditambah, dari 3.000-an pada tahun 2015, kini sudah mencapai 8.336 orang yang tersebar di 5.945 KUA seluruh Indonesia. "Di KUA, ada 10 fungsi yang dilaksanakan baik pelayanan maupun bimbingan. Pelayanan termasuk di dalamnya manasik haji dan ukur arah kiblat, semua pelayanan di kantor gratis," tandasnya.

Ia menyebut, Kemenag juga sudah melakukan revitalisasi gedung KUA yang saat ini sudah terbangun 708 unit KUA melalui dana SBSN. Sampai 2020 nanti, gedung baru KUA yang bernama Balai Nikah dan Manasik Haji yang dibangun melalui dana SBSN mencapai 836 unit.

"Alhamdulillah SBSN KUA mendapatkan penghargaan dari Kementerian Keuangan sebagai pengelola dana SBSN terbaik di Kemenag," ucap Dirjen.

Potret peningkatan kualitas layanan KUA lainnya, tampak pada inovasi layanan dengan pemanfaatan teknologi informasi. Saat ini, kata Dirjen, sudah ada aplikasi di KUA bernama SIMKAH Web yang terintegrasi dengan aplikasi SIAK milik Kemendagri dengan tujuan data catin yang akan menikah bisa langsung divalidasi melalui aplikasi SIAK.

"Kemudian ada juga Kartu Nikah sebagai tambahan bagi catin agar bisa dibawa kemana-mana," tutur dia.

Ke depan, pihaknya akan melakukan pengadaan lahan KUA, sebab sekarang ini sebanyak 70 persen KUA masih berdiri bukan di atas lahan milik sendiri melainkan di atas tanah wakaf dan milik pemerintah daerah. (jms/kemenag)

 

 

Baca juga:

Kemenag Hadirkan KUA di Mal Pelayanan Publik Banyuwangi 


Back to Top