Dekan FIDIKOM UIN Jakarta: Dakwah Kontekstual yang Perlu Dilakukan oleh Muslim Milenial

gomuslim.co.id -   Dakwah di era digital bisa kita lakukan dengan banyak cara. Salah satunya dengan menggunakan media sosial. Tapi, bukan sembarang dakwah, khususnya untuk muslim milenial.

Demikian dikatakan oleh Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi (Fidikom) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Suparto, M.Ed., Ph.D, kepada gomuslim di ruang kerjanya, Rabu, (03/07/2019). Menurutnya, era digital saat ini menjadi sebuah wadah baru dan paling potensial untuk berdakwah.

“Saat ini dakwah tak hanya soal tekstual dari balik mimbar atau harus menajdi Ustadz/ustadzah dulu baru bisa jadi da’i. itu dakwah tradisi dulu. Saat ini kita bisa berdakwah lewat beragam platform, sehingga dakwahnya kontekstual, dalam segala lini kehidupan, yang sering kita sebut sebagai Living Dakwah,” jelas Dekan Fidikom baru UIN Jakarta periode 2019-2023 ini.

Media Dakwah Menjadi Penyeimbang

Selain itu, menurut , Suparto, M.Ed., Ph.D, media Islam saat ini seharusnya bisa menjadi penyeimbang sebagai wadah penyedia informasi yang seimbang.

“Media Islam bisa menjadi emdia dakwah sebagai tempat belajar agama yang memanfaatkan era digital, misalnya mereka bisa tampil dengan bahasan Alquran, Hadist, sampai ilmu Fiqih yang bisa diakses dengan mudah, sehingga bisa dipelajari di mana saja dan kapan saja, oleh siapa saja,” paparnya.

Lalu, terkait konten, media Islam bisa menyajikan hal-hal apa saja yang mengandung mauidzotul hasanah atau hal-hal baik (nasehat kebaikan) tentang informasi-informasi yang perlu umat ketahui.

 

Baca juga:

CRSC UIN Jakarta Luncurkan Buku ‘Masjid di Era Milenial: Arah Baru Literasi Keagamaan’

 

Pesan untuk Muslim Milenial

Dengan era keterbukaan informasi saat ini, Dekan Fidikom UIN Jakarta ini juga menyarankan kepada muslim milenial dan siapa saja yang juga aktif menggunakan sosial media, khususnya untuk berdakwah, agar lebih bijak di dunia maya.

“Timbulkan rasa curiosity (rasa ingin tahu) di diri kita. Dengan  begitu, kita tak hanya percaya satu sumber saja. Kita belajar agama, misalnya, jangan hanya mendengarkan satu sumber saja, lalu merasa sudah paling benar atau tidak mengaji lagi pada Ustadz di kehidupan nyata. Karena itu, teman-teman milenial jangan lupa untuk tetap mengaji kepada Pak Kiyai, Ustadz, dan guru-guru, agar belajar agamanya bisa kontekstual dan lengkap, bukan dari “mbah google”,” kata alumni Monash University Australia ini.

Terkait dakwah kontekstual, Suparto, M.Ed., Ph.D. mengatakan FIDIKOM UIN Jakarta sebagai lembaga pendidikan juga sudah menerapkan refleksi dakwah lewat prodi-prodi yang ada di fakultas ini, di antaranya Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Jurnalistik, Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), Kesejahteraan Sosial (Kesos), Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), dan Manajemen Dakwah (MD). (fau/foto ilustasi: journoliberta)

 

 

Baca juga:

IKALUIN Gelar Pelantikan Kepengurusan Baru


Back to Top