#KabarHaji

Begini Penjelasan Prof Quraish Shihab Soal Haji Mabrur

gomuslim.co.id – Pendiri Pusat Studi Quran, Prof. Muhammad Quraish Shihab menjelaskan makna haji mabrur kepada calon jemaah haji tahun 2019 yang akan berangkat dalam beberapa hari lagi. Penjelasan ini disampaikan dalam kegiatan Manasik Praktik Maktour Travel di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin, (15/7/2019).

Menurutnya mabrur atau diterimanya ibadah haji seorang muslim bukan sekadar sah dari sisi pelaksanaannya. Mabrur berasal dari kata barra yabarru yang artinya tunduk, taat atau menaati. Jadi haji mabrur adalah hajinya orang yang menepati janji setelah kembali dari Tanah Suci.  

“Kita melaksanakan ibadah ini bagaikan berjanji kepada Allah. Misalnya, thawaf bermakna memasukan diri ke dalam lingkungan Tuhan. Setelah haji, anda berjanji bahwa sisa hidup anda akan selalu masuk dalam lingkungan-Nya,” jelas mantan Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII ini.

Selanjutnya, Sai atau usaha (lari-lari kecil) yang lambangnya dimulai dari Shofa menuju Marwah. Shofa artinya suci dan Marwah artinya puas. “Sai berarti anda berjanji akan berusaha dengan titik tolak dari kesucian secara sungguh-sungguh. Itu sebabnya, ada lari-lari. Lalu puas dengan hasil setelah usaha maksimal,” ujarnya.

 

Baca juga:

Manasik Terakhir, Jemaah Haji Maktour Siap Berangkat ke Tanah Suci

 

Kemudian, makna dari melempar jumroh (batu) artinya jemaah berjanji, sejak saat ini akan jadikan syetan sebagai musuh dan menjauh darinya. “Kalau anda menepati janji anda, maka haji anda mabrur. Bukan sekadar sah saat pelaksanaanya di sana. Haji mabrur ditentukan setelah kembali dari Makkah. Dan ingat, anda berjanji pada Tuhan, bukan pada manusia,” ungkapnya.

Lebih lanjut, pengarang Tafsir Al Misbah ini mengatakan semua perbuatan harus ada niatnya, termasuk ketika akan melaksanakan ibadah haji. Niat tidak harus diucapkan. Tetapi kalau diucapkan akan membantu memantapkan niat.

“Niat melakukan perjalanan haji harus diluruskan mulai sekarang. Karena semua amal tergantung pada niatnya. Pelajari tentang tata cara ibadah haji, supaya tidak salah dalam praktiknya nanti. Tetapi kalau sudah usaha lantas masih salah, insya Allah akan dimaafkan, diampuni, jangan khawatir,” jelasnya.

Mantan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah ini menambahkan bahwa segala sesuatu bersumber dari hati. Tetapi apa yang ada di hati, harus diupayakan dengan pengamalan. Sesuai antara yang diucapkan dengan perbuatan.

“Sekuat kemampuan dalam keyakinan. Upayakan sekuat tenaga, kalau kurang-kurang, sadari lalu perbaiki diri. Jangan sudah menyaadari itu salah, tetapi berlanjut dalam kesalahan. Itu yang menyebabkan su’ul khotimah. Jadilah haji yang mabrur dengan berupaya membuktikan apa yang dijanjikan. Meskipun pada hakikatnya, mabrur atau tidak hanya Tuhan yang tahu,” tutupnya. (jms)

 

 

Baca juga:

Ini Tips Agar Sehat dan Tetap Bugar Saat Ibadah Haji


Back to Top