Ini Penjelasan Chief of Sharia AXA Mandiri Soal Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional

gomuslim.co.id – Chief of Sharia AXA Mandiri Srikandi Utami memberikan penjelasan tentang perbedaan antara asuransi syariah dengan konvensional. Penjelasan tersebut disampaikan dalam kegiatan literasi literasi keuangan syariah kepada para dai dan daiah di Palembang baru-baru ini.

Ia menjelaskan, asuransi konvensional itu menyerahkan resiko ke perusahaan sebagai penanggungnya. Namun dalam asuransi syariah justru resiko itu ditanggung bersama-sama, jadi sistemnya tolong-menolong.

“Asuransi syariah itu, konsepnya tolong menolong dengan berbagi resiko. Misal ada salah satu anggota yang mengalami musibah, maka akan saling membantu menggunakan dana kebajikan. Sementara perusahaan hanya bersifat sebagai pengelola dana saja, bukan menanggung seperti di asuransi konvensional,” ujarnya.

Utami menambahkan, dalam pelaksanaannya, asuransi syariah ini melakukan akad dengan jelas dan mendapatkan pengawasan dari Dewan Syariah Nasional. Meski menganut sistem yang disyariatkan sesuai ajaran Islam, asuransi syariah ini bersifat universal atau tidak eksklusif atau bisa juga diikuti oleh non-muslim.

“Bahkan, saat ini negara-negara non-muslim merambah bisnis syariah,” kata dia.

Sejauh ini, pertumbuhan asuransi syariah di Indonesia masih perlu ditingkatkan jika merujuk dengan jumlah penduduk muslimnya. Berdasarkan data AXA Mandiri diketahui jumlah polis aktif per Desember 2018 berjumlah 132.823 orang, sementara di Sumsel mencapai lebih dari seribu polis dan Palembang berjumlah 863 polis.

 

Baca juga:

PT AXA Mandiri Syariah Luncurkan Fitur Wakaf

 

Tahun lalu, AXA Mandiri melakukan pembayaran klaim untuk Palembang berjumlah Rp78 juta, dan untuk Sumsel Rp132 juta.

Sementara itu, Ketua Komisi Dakwah MUI pusat K.H Muhammad Cholil Nafis Ph.D yang menjadi narasumber pada kegiatan literasi tersebut mengatakan MUI memiliki tanggung jawab untuk isu ekonomi syariah ini karena Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia hanya 8,0 persennya yang memanfaatkan asuransi syariah.

“Ada pemahaman yang salah di masyarakat, bahwa asuransi ini sama saja dengan menantang takdir. Padahal ini sama dengan menyiapkan takdir, karena sejatinya manusia itu pasti mati. Yang penting bukan orang yang mati itu, tapi bagaimana orang yang ditinggalkan ini tidak lemah dalam ekonomi, agama dan lainnya,” ungkapnya.

MUI menilai ekonomi syariah ini merupakan kekuatan besar jika benar-benar dimanfaatkan umat, contohnya produk asuransi syariah ini karena bukan hanya penggelolaannya yang sesuai syariah Islam tapi juga dapat menumbuhkan ekonomi umat.

Seperti diketahui konsep keuangan syariah, terutama asuransi syariah ini masih belum dikenal masyarakat, meskipun Indonesia dikenal sebagai negara penganut muslim terbesar di dunia. (jms/antara)

 

 

Baca juga:

AXA Financial Luncurkan Dua Produk Syariah dengan Fitur Wakaf


Back to Top