Tokoh Muslim dan Lintas Agama Tekankan Dialog dan Jalan Damai untuk Kasus Papua

gomuslim.co.id – Sejumlah tokoh muslim dan lintas agama Indonesia yang tergabung dalam Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK) memberikan penyataan dan sikap terkait persoalan Papua. GSK mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengedepankan dialog dan jalan damai untuk memecahkan persoalan.

Ketua GSK, Prof Mahfud MD mengatakan hal pertama yang perlu dilakukan adalah menciptakan perdamaian setelah kisruh kemarin. Selanjutnya, GSK mendorong aparat berwenang untuk menindak secara tegas para oknum yang melakukan tindakan rasis, provokasi dan diduga memicu kericuhan di Papua.

Ia pun menyerukan kepada semua pihak baik itu kepada pemerintah, aparat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh gerakan, untuk melakukan pendekatan dialog yang konstruktif dan persuasif dalam menangani masalah ini.

“Rasis ini sangat bahaya. Di dunia internasional bahkan sangat ditekankan. Di Jerman, orang mengucapkan Hitler saja sudah dilarang karena itu sudah dianggap simbol rasis dan memalukan bangsa Jerman. Begitu pun di dunia sepakbola. Kalau ada pemain ngejek, rasis, dia dikasih kartu merah. Kalau penonton yang rasis, klubnya dihukum,” ujarnya di Jakarta, Jumat (23/08/2019).  

Selain itu, Guru Besar Ilmu Hukum UII ini juga menekankan kepada semua pihak untuk menghentikan segala bentuk kekerasan, karena dapat mencemaskan dan mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat.

“Aksi demo yang diwarnai kekerasan dapat meresahkan masyarakat, melumpuhkan kegiatan ekonomi masyarakat, serta mengganggu kegiatan masyarakat sehari-hari. Karena itu, demo dan kekerasan ini harus segera dihentikan melalui pendekatan dialog yang persuasif," katanya.

Ia juga mengingatkan TNI dan Polri agar oknum pelaku diskriminasi ras ini ditindak tegas sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Menurutnya, penegakan hukum kepada oknum yang melakukan pelanggaran hukum wajib ditegakkan. "Hukum harus ditegakkan secara adil. Oknum pelaku pelanggaran hukum, harus diproses," ungkapnya.

Mahfud mengatakan bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia. Papua merupakan bagian dari Tanah Air Indonesia, sehingga masyarakat Papua harus mendapat perlakuan dan pelayanan yang sama. “Kita punya banyak ras, suku, bahasa dan budaya. Mari kita bersatu menjadi perekat dalam kebhinekaan kita,” ucapnya.

 

Baca juga:

Ketua MUI Papua Doakan Indonesia Selalu Damai dari Makkah

 

Sementara itu, Prof Quraish Shihab mengatakan bahwa masyarakat mendambakan kedamaian dan kemajuan bangsa. Maka dari itu, prinsip saling menerima dan memaafkan perlu dilakukan. Dalam konteks papua, kata dia, suatu perbuatan, ucapan atau kebijakan pasti ada yang salah atau disalahkan.

“Maka, titik tolaknya harus terbuka, saling maaf-memaafkan. Meskipun orang bersikap benar tapi sikapnya disalahpahami, juga harus minta maaf. Kemarin ada yang salah paham dan ada yang tersinggung. Jadi ada pemicu ketersingungan dan kesalahpahaman. Pemicu ini harus ditindak dengan tegas artinya dengan tindakan hukum,” katanya.

Pada kesempatan ini, GSK juga menyampaikan lima poin seruan dalam menyikapi perkembangan situasi di Papua, yang dibacakan oleh Alissa Wahid. Pertama, semua pihak untuk menahan diri dan berpartisipasi aktif dalam menciptakan suasana kondusif di Papua.

Kedua, pemerintah termasuk TNI-Polri perlu mengedepankan dialog konstruktif bersama tokoh-tokoh Papua untuk mencari jalan keluar terbaik demi kepentingan masyarakat Papua dan NKRI.

Ketiga, semaksimal mungkin pemerintah mengambil tindakan damai yang cepat, terencana, dan tepat sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku sehingga tidak jatuh korban lagi.

Keempat, pihak aparat penegak hukum agar menindak tegas oknum pelaku rasisme yang memicu kerusuhan dan mencegah terjadinya lagi kejadian serupa.

Kelima, semua komponen bangsa selalu menjunjung tinggi persamaan derajat sebagai sesama bangsa Indonesia, mencegah terjadinya tindakan diskriminatif, menghargai local values.

Adapun para tokoh yang hadir dalam kesempatan ini diantaranya Prof Alwi Shihab, Prof Komarudin Hidayat, Shinta Nuriyah Wahid, Romo Magnis Suseno, Romo Benny Susetyo, Simon Patrice Morin dan Achmad Suaedy. (jms)

 

Baca juga:

Tanggapi Insiden di Papua, PMII Ajak Masyarakat Agar Tak Mudah Terprovokasi


Back to Top