UMS dan ICMI Sepakat Kampanye Cegah Perilaku Seks Menyimpang

gomuslim.co.id – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) sepakat untuk mengkampanyekan waspada penyebaran perilaku seks menyimpang di kalangan generasi muda. Hal ini terungkap dalam Seminar Nasional bertema “Menyelamatkan Generasi Penerus Bangsa dari Malapetaka Moral pada Perilaku Menyimpang Hubungan Seksual Sejenis”, Kamis (5/9/2019).

Rektor UMS, Prof Dr Sofyan Anif, M.Si mengatakan seminar ini sangat penting karena menyangkut masa depan anak muda. Menurunya, anak muda jangan sampai rusak sebelum bersemi karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa.

“Perilaku menyimpang seksual sejenis ini juga merupakan salah satu persoalan bangsa kita. Maka kita sebagai sivitas akademika harus membuat usaha-usaha penyelesaian masalah ini. Turut mencarikan solusinya. Mereka yang menyimpang jangan dijauhi tapi dibantu dengan solusi. Perguruan tinggi harus riset mencaro solusi yang tepat,” jelasnya.

Anid menambahkan, para penderita penyakit seksual perlu perhatian khusus. Namun, ia meminta penderita ini untuk tidak dijauhi, justru diberikan pendampingan dan penyadaran.

“Para penderita justru harus kita rangkul, jangan malah dijauhi. Kita kasih pengertian dengan pendekatan yang baik supaya sadar. Karena para penderitapun juga sama manusia seperti kita,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum ICMI, Dr. Sri Astuti Buchari  mengatakan kondisi hubungan perilaku seksual sejenis di Indonesia cukup memprihatinkan. Di Amerika dan Eropa sudah 5 persen dari total jumlah penduduk yang terjangkit penyakit seksual akibat perilaku LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual dan Transgender), sementara di Indonesia sudah mencapai 1 persen.

“Meski angkanya terlihat kecil, tapi ini merupakan masalah yang besar dan darurat. Mengingat bahaya hubungan seksual sejenis, ancamannya tidak hanya menimbulkan penyakit, tetapi juga kematian,” katanya.

 

Baca juga:

ICMI Bimbing Umat Gerakkan Ekonomi dengan Penguasaan Imteq dan Imtaq

 

Sri Astuti melanjutkan, solusi yang bisa ditawarkan minimal ada tiga pendekatan yakni pendekatan kesehatan, kedua pendekatan umum dan agama, ketiga pendekatan hukum dan politik.

Kegiatan yang digelar ICMI dengan mengajak sejumlah kampus hukan untuk menghakimi, melainkan ingin memberi edukasi dan pendampingan bagi penjangkit.

“Kami dari ICMI bukan mau mengadili, tapi mau menolong siapaun yang sudah terkena penyakit, yaitu pendampingan dari dokter, pendidik, pakar hukum, politisi,” jelasnya.

Ia mengatakan ICMI bersama UMS kita harus bisa mengendalikannya. “Kami dari ICMI memberikan solusi yang ditangani oleh orang-orang yang berkompeten, bersama dokter ahli. Dengan demikian para pelaku tidak perlu khawatir," ucapnya.

Sri menambahkan perilaku seks menyimpang sangat identik dengan penyakit kelamin dan harus diobati. Selanjutnya, pelakunya harus menjalankan kehidupan yang lebih baik. Seharusnya, kata dia, masyarakat Indonesia beruntung karena Negara melarang hubungan sesama jenis. Termasuk dalam agama Islam, dikatakannya, perilaku seks menyimpang sangat dilarang.

"Negara kita melarang pelegalan hubungan sejenis. Bahkan di 28 negara lain yang telah melegalkan LGBT tidak sepenuhnya membebaskan perilaku seks menyimpang," katanya.

Narasumber pada kegiatan ini adalah Prof. Dr. Aida Vitayala, Guru Besar Komunikasi Gender IPB, dr. Hanny Nilasari, Sp. Kk, dokter spesialis penyakit kelamin dari Universitas Indonesia, Dr. Herawati Tarigan, Anggota DPR-RI Komisi VIII, Dr. Masnasari, Tim Ahli Komisi Perlindungan Anak Republik Indonesia dan Dr. Didin Muhafidin, SIP, M.Si, ahli kebijakan publik. (jms/joglosemar/dbs)

 

 

Baca juga:

ICMI Maros Sulsel Canangkan Masjid Ramah Anak

 


Back to Top