Sejumlah Ormas Islam Bahas Penyatuan Kalender Islam Global

gomuslim.co.id – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggandeng sejumlah ormas Islam di Indonesia untuk melakukan dialog bersama terkait Penyatuan Kalender Islam Global, Jumat, (06/09/2019). Gagasan ini muncul pada Seminar Internasional Penyatuan Kalender Hijriyah di Turki 28-30 Mei 2016 lalu.

Perwakilan Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis), Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), OIF UM Sumatera dan Jakarta Islamic Center turut hadir dalam dialog yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah Jakarta ini.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, Prof. Syamsul Anwar mengatakan, dialog dan diskusi ini selain sebagai wadah silaturahmi, juga sebagai bentuk pelaksanaan amanat Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar 2015. Amanat tersebut tertuang dalam isu-isu strategis dan keumatan butir ke-6 mengenai Penyatuan Kalender Islam Internasional.

Isinya menyuratkan pentingnya umat Islam sebagai umat yang satu (ummatan wahidah) memiliki pedoman kalender secara internasional yang sama. Penyatuan Kalender Islam secara internasional tidak hanya menyatukan berbagai masalah administratif-duniawi dan ibadah, tetapi menurut Syamsul juga sebagai langkah penyatuan umat.

“Kita merasa punya hutang peradaban, sudah 1500 tahun peradaban Islam tapi tidak punya kalender, sehingga kita semacam umat yang tidak punya perhatian terhadap waktu,” ujarnya.

 

Baca juga:

Muhammadiyah Gelar Konsolidasi Paham Hisab Kalender Islam Global

 

Sebelumnya, Majelis Tarjih dan Tajdid memberikan dua alternatif. Pertama, melakukan penyatuan lokal dengan menerima kalender lokal dengan kriteria 4+6,5 atau kriteria lain. Jika semua menerima kalender ini, semua umat Islam di Indonesia akan bersatu. Namun, tidak dapat mengajak masyarakat dunia lain untuk menerima kalender itu karena sifatnya lokal.

Artinya, hanya bisa diterapkan di Indonesia dan tidak masyarakat Muslim di tempat-tempat lain. Langkah ini dirasa tidak produktif dan tidak memiliki daya tawar ke luar.

Kedua, melakukan penyatuan global dengan menerima kalender atas kriteria-kriteria gloibal. Misalkan, kalender Turki 2016 atau kalender global lain.

“Jika masyarakat di Indonesia menerima kalender ini, kita dirasa akan bersatu secara lokal karena telah menerima kalender bersama. Pada saat yang sama, ada peluang mengajak bangsa lain,” katanya.   

Menurut dia, alternatif kedua dirasa lebih fisibel karena bisa menyatukan secara lokal. Sekaligus, memberi peluang mengajak masyarakat dunia Muslim lain untuk mengikuti dan memberi contoh persatuan. (jms/muhammadiyah/foto:ilustrasi)

 

 

Baca juga:

Kemenag dan MUI Segera Bahas Penyatuan Kalender Hijriyah


Back to Top