Umat Islam di Pekanbaru Riau Gelar Salat Istisqa’

gomuslim.co.id – Ribuan warga dan pegawai pemerintah memadati halaman Kantor Gubernur Riau di Pekanbaru untuk melaksanakan shalat istisqa, meminta hujan. Hal ini menyusul masalah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan makin parah.

Pelaksanaan salat istisqa ini juga dihadiri seluruh jajaran PNS di bawah Pemprov Riau serya menggandeng pengurus Majelis Ulama Indonesia Riau, serta aparat Polri dan TNI untuk ikut melaksanakan shalat memohon datangnya hujan.

Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution, mengajak warganya melaksanakan salat istisqa berjamaah dengan harapan hujan segera turun dan meredakan kabut asap yang meliputi sebagian wilayah provinsi.

Dalam salat ini, Prof Nazir Karim bertindak sebagai imam dan Ustadz Saidul Amin sebagai khatib. Menurut Saidul, tidak ada senjata ampuh dalam menghadapi sesuatu kecuali meminta ampun dan pertolongan dari Tuhan.

 

Baca juga:

Termaktub dalam Alquran, Begini Fenomena Alam Tentang Kadar Air Hujan

 

Dia menyebut Karhutla dan kabut asap yang terjadi tak terlepas ulah tangan manusia. Orang yang membakar lahan disebut Saidul telah merusak kehidupan manusia dan masa depan.

"Kabut asap hari ini diundang oleh manusia. Orang (membakar lahan) ini tidak memiliki akal sehat," tegas Saidul.

Sementara itu, Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, cuaca di Riau dari pagi hingga malam hari cerah hingga berawan. Curah hujan baru ada pada dini hari Kamis, 12 September 2019, tapi tidak merata.

"Hujan terjadi di sebagian Kabupaten Kampar dan Rokan Hulu. Sementara cuaca pada pagi harinya berpotensi terjadi penurunan jarak pandang karena kekaburan udara akibat partikel kering seperti asap," kata Kasi Data dan Informasi BMKG Pekanbaru, Marzuki.

Selain itu, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini agar masyarakat waspada terhadap penurunan kualitas udara dan jarak pandang. Hal ini disebabkan peningkatan polusi udara yang berasal dari Karhutla.

Berdasarkan pantauan BMKG, jarak pandang di Kota Pekanbaru dan Pelalawan hanya 1 kilometer saja. Sementara daerah lainnya, Rengat 3 kilometer dan Kota Dumai 5 kilometer karena diselimuti kabut asap.

Buruknya jarak pandang dan kualitas udara di Riau diprediksi berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Pasalnya di Riau pada Rabu pagi, terdeteksi 258 titik panas sebagai indikasi terjadinya Karhutla.

Ratusan titik panas itu terbesar di Rokan Hulu 2 titik, Bengkalis 9 titik, Kampar 5 titik, Kota Dumai 1 titik, Kuantan Singingi 3 titik, Pelalawan 47 titik, Rokan Hilir 23 titik, Indragiri Hilir 143 titik dan Indragiri Hulu 25 titik.

Dari 258 titik panas itu, yang dipercaya sebagai titik api atau telah terjadi Karhutla ada 166 dengan level kepercayaan di atas 70 persen. Titik api ini tersebar di 8 kabupaten dan kota di Riau.

"Bengkalis, Kampar dan Kuantan Singingi, masing-masing 2 titik, Rokan Hulu 1 titik, Pelalawan 32 titik, Rokan Hilir 16 titik, Indragiri Hilir 94 titik dan Indragiri Hulu 17 titik," sebut Marzuki.

"Semoga saja dengan shalat, doa kami didengar oleh Allah, dan Riau terbebas dari asap karhutla," kata Ade Iduang Iskandar, warga Pekanbaru yang ikut melaksanakan shalat istisqa. Kegiatan belajar mengajar di sekolah di beberapa bagian Riau diliburkan sementara karena kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran hutan dan lahan. (nov/dbs/lip6)

 

Baca juga:

Ceritakan Tanda Cinta Allah Melalui Hujan, Desainer Fenny Saptalia Luncurkan Koleksi Terbaru Rintik


Back to Top