Ini Becak Wisata Religi, Program Baru di Klinik Pendidikan MIPA

gomuslim.co.id – Pengemudi becak di Komplek Taman Pagelaran, Ciomas, Kabupaten Bogor, kini menjelma sebagai transportasi wisata yang bernama Becak Wisata Religi (BESTARI). Bestari merupakan sebuah gagasan baru sebagai solusi dari berkurangnya pendapatan bagi pengemudi becak sebagai alat transportasi tradisional lantaran menjamurkan ragam transportasi.

“Bestari ini adalah salah satu kelanjutan dari program pelatihan suprarasional Pelatihan Suprarasional oleh Ridwan Hasan Saputra (RHS),” kata Penanggung Jawab Program Herman Hadiwijaya.

Herman mengatakan, eksistensi moda transportasi lawas ditengah modernisasi adalah hal yang menarik. Sebab, selain menjadi tambahan income bagi pengemudi becak, BESTARI menjadi sarana wisata yang mengandung nilai edukasi bagi masyarakat, khususnya dikalangan pelajar.

Peserta yang sedang mengikuti kegiatan di Klinik Pendidikan MIPA diajak berkeliling menikmati perjalanan pagi di desa Laladon. Mereka juga disuguhkan dengan pemandangan hamparan sawah yang luas, sehingga kegiatan tersebut dapat menjadi sarana refreshing disela-sela proses belajar.

 

Baca juga:

Sedekah Tukang Becak Ini Berbuah Ongkos Haji Sekeluarga

 

Kedua, peserta (khususnya pelajar) dapat berinteraksi dan mengambil hikmah dari pengalaman hidup pengemudi becak. “Sehingga para peserta akan merasa lebih bersyukur dan termotivasi untuk senantiasa menjadi lebih baik dalam menapaki kehidupan di masa depan,” ujar Kang Herman.

BESTARI mendapat respons positif dan disambut gembira salah satu orangtua siswa Klinik Pendidikan MIPA, Mainita Hidayati. Ia mengaku bersyukur dengan hadirnya BESTARI.

 “Alhamdulillah, terima kasih banyak kepada KPM yang telah menghadirkan becak wisata religi. Sehingga anak saya semakin bersemangat mengikuti kegiatan Suprarational Math Camp (SMC) bersama KPM,” ujarnya.

Menurut Mainita, hadirnya kegiatan tersebut memiliki makna yang berarti bagi kehidupan putranya agar semakin bersyukur dari pengalaman hidup tukang becak untuk kemudian dijadikan hikmah dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dari perjalanannya bersama tukang becak, anak saya pun sampai menangis setelah mendengar kisah Sang Tukang Becak yang menggantungkan hidupnya hanya dari menarik becak karena minimnya keterampilan dan faktor pendidikan. Dari pengalaman tersebut, saya bersyukur anak saya semakin termotivasi untuk semangat belajar dan mengasah keterampilan demi kehidupan yang lebih baik,” ucap dia. (nov/dbs/rep)

 

 

Baca juga:

Merdekakan Masyarakat dari Kelaparan, KOMBI Lampung Ajak Warga Pra Sejahtera Makan Siang Gratis


Back to Top