Prof Quraish Shihab: Emosi Keagamaan Harusnya Diarahkan untuk Lahirkan Cinta

gomuslim.co.id – Pimpinan Pusat Studi Alquran (PSQ), Prof HM Quraish Shihab mengatakan emosi keagamaan seharusnya diarahkan sehingga melahirkan cinta yang merupakan inti ajaran agama-agama. Menurutnya, konsep ihsan dalam agama Islam dan dalam konteks hubungan manusia memandang orang lain adalah diri sendiri.

Sebaliknya, emosi keagamaan yang berlebihan sering mengundang orang yang berpengetahuan sekalipun bersikap tidak adil. Bahkan, mereka mengucapkan kalimat-kalimat yang justru bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri. Persoalan itu terjadi di belahan dunia timur dan barat, tidak terkecuali di Indonesia.

“Dengan cinta, kita dapat berhubungan harmonis. Bahkan, menyatu walau kita berbeda agama atau pikiran. Karena itu, ketika akal manusia mendiskusikan tentang wujud Tuhan, akal berselisih. Tetapi, pengamal-pengamal agama yang mendasari pengamalan agamanya dengan cinta, (mereka) bertemu dan bergandengan tangan,” jelasnya dalam Forum Titik Temu Jakarta baru-baru ini.

Emosi keagamaan berlebihan ini, kata dia, menjadi salah satu penyebab yang menghambat lahirnya persaudaraan kemanusiaan. Sementara dua penyebab lainnya adalah kesalahpahaman tentang ajaran agama, dan peradaban umat manusia dewasa ini.

“Kesalahpahaman tentang ajaran agama menjadikan sementara orang menduga persaudaraan seagama bertentangan dengan persaudaraan sekemanusiaan. Padahal, agama tidak mengajarkan pertentangan itu. Manusia adalah ciptaan Tuhan. Pencipta selalu mencintai ciptaannya,” katanya.

Penulis Tafsir Al-Misbah ini melanjutkan, kesalahpahaman tentang ajaran agama bisa mendorong seseorang menutup diri dan memutuskan hubungan dengan kenyataan, dan kenyataan itu tidak bisa dihindari.

“Kesalahpahaman tentang agama menjadikan sementara orang mengira bahwa paham kebangsaan yang menetapkan hak dan kewajiban yang sama dalam kewarganegaraan itu bertentangan dengan ajaran agama,” terangnya.

 

Baca juga:

Tokoh Muslim dan Lintas Agama Tekankan Dialog dan Jalan Damai untuk Kasus Papua

 

Ayah Najwa Shihab ini menyebut, kesalahpahaman juga menjadikan sementara orang enggan membantu pihak yang berbeda agama. Bahkan, melarang walau menyampaikan ucapan basa-basi. Ia mengatakan, menutup diri merupakan perbuatan yang tidak bermanfaat.

“Yang kita butuhkan adalah bagaimana hubungan itu kita hadapi dan kelola sehingga tidak menciderai nilai-nilai agama. Tidak juga menjadikan kita lupa bahwa kita bersaudara sekaligus berse-udara. Udara yang tercemar dampaknya menimpa kita semua,” terangnya.

Selanjutnya, peradaban umat manusia dewasa ini telah memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kemanusiaan dalam bidang material. Tetapi, dalam saat yang sama harus juga diakui bahwa peradaban menjadi pincang karena mengabaikan sisi ruhaniyah manusia. Peradaban yang ada disebutnya tidak adil.

Kakak kandung Alwi Shihab ini lantas mengemukakan berbagai makna adil. Pertama, adil bisa bermakna keseimbangan. Perhatian peradaban dewasa ini terhadap alam dan manusia tidak seimbang. Adil juga dimaknai dengan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Menurutnya, di antara ketidakadilan terjadi dalam hal makanan. Organisasi Pangan dan Pertanian Sedunia (FAO) menyebut sisa makanan yang terbuang di Eropa dalam setahun dapat memenuhi kebutuhan  pangan 200 juta manusia. Begitu juga sisa makanan di Amerika Latin yang dapat mencukupi 300 juta manusia.

“Adil juga bermakna memberikan setiap orang haknya dengan cara yang benar dan secepat mungkin. Saya ingatkan kembali agar siapapun berlaku adil kepada orang lain, sekalipun berbeda agama, suku, pandangan politik, atau lainnya,” tutupnya. (jms/nuonline)

 

Baca juga:

Begini Penjelasan Prof Quraish Shihab Soal Haji Mabrur


Back to Top