Ini Doa Ustadz Zaidul Akbar untuk Karhutla di Kalimantan dan Sumatera

gomuslim.co.id – Viralnya foto dan video yang merekam langit merah yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera memunculkan berbagai reaksi. Adalah Ustadz Zaidul Akbar, penggagas Jurus Sehat Rasulullah melalui akun instagramnya @zaidulakbar turut mendoakan turunnya hujan di sejumlah tempat yang penuh denga titik api.

“Dan semoga Allah maafkan dan ampuni penduduk negeri ini. Info dari Temen di Riau, panasnya titik api itu masuk sampe ke dalam tanah, sehingga kalimat beliau bukan pemadaman tp pendinginan krn dalam bumi pun sdh terbakar,” tulisnya Senin (23/09/2019).

Menurutnya, hanya kuasa Allah sematalah yang mampu menyejukan tanah-tanah di Riau, Kalimantan, Jambi, Palembang dan tempat lainnya yakni dengan Air hujannya, karena manusia tak kuasa, Allah yang Maha Kuasa.

“Allah hanya perlu hambaNya kembali kepadaNya sambil mengakui kelemahan dan kezolimannya. Semoga Allah turunkan hujan milikNya untuk memadamkan asap dan api ini. Siapa tahu ada kata aamin dari temen2 semua yang ikhlas disini membuat Allah menurunkan hujanNya. Semoga Allah jaga dan lindungi saudara2 disana, lihat gambar di Jambi kemarin, seperti planet mars. Dan bbrp hr ini, asap asap tersebut sudah mengeluarkan gas-gas hasil pembakaran yang bikin sesak,” tambahnya.

 

 

“Allahul Mustaan.. hanya Allah tempat segala pertolongan di panjatkan. Banyak2 istigfar, bersabar, yakinlah ini akan segera berakhir,” tutupnya.

Fenomena langit merah terjadi saat siang hari, yang mana langit terasa gelap layaknya menjelang matahari terbenam di sore hari. Kehadiran debu polutan tersebut dipengaruhi kabut asap yang semakin pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto memberi penjelasan fenomena langit merah secara ilmiah.

"Tebalnya asap didukung tingginya konsentrasi debu partikulat polutan berukuran lebih dari 10 mikron (PM10). Pada Sabtu tengah malam, pengukuran konsentrasi PM10 menunjukkan kondisi tidak sehat (373,9 ug/m3)," jelas Siswanto.

"Di Muaro Jambi menunjukkan, warna putih dari hasil analisis citra satelit Himawari-8 pada 21 September 2019 mengindikasikan lapisan asap sangat tebal. Jadi, langit merah muncul, yang mungkin terjadi karena kebakaran lahan dan hutan, yang terjadi di wilayah tersebut, terutama lahan-lahan gambut,"

Langit merah di Muaro Jambi juga dikenal dengan fenomena Mie Scattering atau istilah ilmiah dalam bahasa Inggris, yakni Rayleigh Scattering. Jika ditinjau dari teori fisika atmosfer, langit merah disebabkan  adanya hamburan sinar matahari oleh partikel mengapung di udara yang berukuran kecil (aerosol). 

"Fenomena langit merah dikenal dengan istilah hamburan mie (Mie scattering). Ini terjadi jika diameter aerosol dari debu polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak (visible) matahari," lanjut Siswanto.

"Panjang gelombang sinar merah berada pada ukuran 0,7 mikrometer. Sementara itu, konsentrasi debu partikulat polutan berukuran kurang dari 10 mikrometer sangat tinggi di sekitar Jambi, Palembang, dan Pekanbaru. Tetapi langit yang berubah merah terjadi di Muaro Jambi. Artinya, debu polutan di daerah tersebut dominan berukuran sekitar 0,7 mikrometer atau lebih dengan konsentrasi sangat tinggi," (nov/Instagram/dbs)

 

Baca juga:

Isi Kajian di Muslim LifeFest 2019, Ini Tantangan Hidup Sehat dari Dokter Zaidul Akbar


Back to Top