Pemuda Jerman Ini Pilih Jadi Mualaf Usai Bantu Pengungsi Suriah 

gomuslim.co.id – Hidayah Islam bisa datang kepada siapa saja dengan beragam cara. Salah satunya seperti kisah perjalanan mualaf asal Jerman ini. Dia adalah Max Klein (19), seorang pemuda yang memilih memeluk agama Islam setelah membantu para pengungsi Suriah datang ke kotanya saat masa krisis.   

“Suatu pagi, saya bangun dan berpikir: Hari ini saya akan masuk Islam. Dan itulah yang saya lakukan,” kata Max seperti dilansir dari publikasi About Islam, Rabu (09/10/2019).

Max bercerita, bahwa dirinya adalah remaja biasa pada umumnya. Suka pesta, anak perempuan, dan minum alkohol. Intinya mencari kesenangan. Namun ada juga sisi lain dalam dirinya. Orang tua Max bukan orang tua kandung. Dia diadopsi sejak bayi.

“Karena saya mengerti apa artinya ini, itu meninggalkan ruang kosong di dalam diri saya. Itu juga membuat saya bertanya-tanya dari mana saya sebenarnya berasal. Mungkin fakta inilah yang mendorong saya untuk langsung masuk dan membantu di mana pun saya bisa ketika para pengungsi pertama dari Suriah dan negara-negara lain tiba di kota kecil kami,” ungkapnya.

Pada bulan September 2015, Max pergi bertemu para pengungsi untuk pertama kalinya. Dia mengetuk pintu dan berkata bahwa dia di sini untuk membantu. Sampai para pengungsi ini pergi lagi, Max pergi ke sana hampir setiap hari. Dia membantu membersihkan tempat tidur, membersihkan lantai, menemani para pengungsi ke dokter, dan bermain dengan anak-anak.

“Di malam hari saya tidak pergi. Saya duduk bersama mereka. Kami minum teh bersama. Dan saya mendengarkan cerita mereka. Kisah kesedihan. Kisah-kisah tentang perang dan kisah-kisah meninggalkan tanah air seseorang dan merindukan keluarga. Kami juga berbicara tentang agama dan kepercayaan,” ujarnya.

Pada suatu hari, satu pertanyaan mengubah segalanya. Ada guru perempuan ini dari Lebanon yang berkata kepada Max. "Kamu sangat membantu. Anda melakukan banyak hal baik. Mengapa kamu tidak memiliki Tuhan?," tanya perempuan itu.

Pertanyaan tersebut terus terngiang dalam pikirannya. Tapi Max tidak punya jawaban. Karena Max mengaku tidak pernah benar-benar memiliki hubungan dengan agama sebelumnya. Dia tidak terhubung dengan gagasan agama tersebut tentang Tuhan.

“Tetapi mulai dari malam itu, saya mendengarkan dengan seksama ketika teman-teman pengungsi saya berbicara tentang Islam. Saya mengamati mereka berdoa. Dan saya bertanya pada diri sendiri: bagaimana hidup dengan Allah, hidup sebagai seorang Muslim?,” ucapnya.

Kemudian, pada suatu pagi di musim semi 2016, Max bangun dan mulai berpikir untuk masuk Islam saat itu.

“Itu hari Jumat. Saya duduk di depan komputer dan mencari tahu bagaimana orang bisa menjadi Muslim. Kemudian saya berpakaian, mengambil sepeda saya dan pergi ke masjid kecil di kota kami. Saya langsung pergi ke imam. Saya memperkenalkan diri dan memberi tahu dia bahwa saya ingin menjadi Muslim sekarang. Saya sudah memilih nama Muslim baru saya: Yafer, pembantu,” katanya.

 

Baca juga:

Terinspirasi Mohamed Salah, Fans Liverpool Ini Mantap Jadi Mualaf

 

Setelah resmi menjadi mualaf ia bercerita kepada ibunya. Tentu saja ibunya terkejut dan berpikir Max akan menjadi salah satu dari Muslim radikal. Ibunya takut kehilangan Max.

“Selama dua minggu pertama setelah pertobatan saya, dia hanya memasak daging babi. Saya tidak memakannya. Ketika saya protes tentang hal itu, dia (ibu) mengatakan bahwa dia tidak sengaja melakukannya. Dia hanya tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan cukup cepat,” kisahnya.

Ibu Max khawatir karena dia baru berumur 17 tahun ketika menjadi Muslim. Selama beberapa bulan pertama setelah pertobatanya, Max sering berakhir dengan diskusi dan argumen yang panas.

“Tapi sekarang sudah lebih baik. Alhamdulillah. Ibu saya sekarang menerima keputusan saya. Dia tahu bahwa Islam penting bagi saya. Dan dia menghormati cara hidup saya yang baru,” katanya.

Teman Lama Meninggalkan Saya

Ketika Max memberi tahu teman-teman tentang keputusannya, mereka diam saja. Dia mengatakan kepada mereka bahwa dirinya tidak bisa lagi minum dan berpesta bersama mereka. “Semuanya perlahan-lahan meninggalkan hidupku. Saya tidak sedih tentang itu. Itulah hidup. Kami mengambil cara yang berbeda,” tuturnya.

Max menemukan jalan hidup dalam Islam. Ia pergi ke masjid, shalat dan mengikuti perintah Allah lainnya. Dia juga belajar bahasa Arab dan membaca Alquran.

“Ada begitu banyak yang harus dilakukan. Karena saya tidak lagi berpesta, hidup saya juga menjadi lebih stabil. Saya berada di tahun kedua saya belajar profesi sekarang. Sesuatu yang saya coba sebelumnya dua kali tetapi selalu berhenti di tengah jalan. Gaya hidup Muslim saya membantu saya dengan kehidupan sehari-hari saya juga,” ujarnya.

Max mengaku benar-benar menemukan rumah dalam Islam dan komunitas Muslim. Dia mulai memahami bahwa setiap Muslim adalah saudara satu sama lain. Ia juga merasa siap untuk berkeluarga.

“Saya ingin menikah, memiliki hubungan halal, merawat istri saya, dan berada di sana untuknya. Itu adalah sesuatu yang saya rindukan dalam hidup saya. Saya berharap bahwa Allah akan memberi saya istri yang saleh segera,” tutupnya. (jms/aboutislam)

 

 

Baca juga:

Sering Buat Konten Ajaran Islam, Youtuber Korea Ini Resmi Jadi Mualaf


Back to Top