Lawan Hoaks, Santri Diminta Jihad di Media Sosial

gomuslim.co.id – Pemahaman keagamaan para santri bisa menjadi modal untuk memerangi konten-konten hoaks, kebencian dan sejenisnya di jejaring media sosial. Karena itu, momentum hari santri menjadi ajang membimbing para santri untuk bisa jihad di media sosial (medsos) melalui Pelatihan Santri Desain.

Pelatihan yang berlangsung di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Diwek, Jombang akhir pekan lalu ini diikuti oleh puluhan santri. Mereka dibina agar bisa mewarnai berbagai macam media sosial yang ada, seperti facebook, instagram, dan lainnya.

Ketua Panitia Hari Santri, H Jauharuddin Alfatih mengatakan santri dituntut tidak semata bisa menguasai bidang keagamaan, tetapi juga di bidang teknologi informasi.

"Santri diharap mampu mengimbangi perkembangan teknologi informasi yang terus berkembang. Dalam hal ini adalah jihad di media sosial," ujarnya.

Menurutnya, jihad di medsos ini selaras dengan imbauan petunggi NU yang dilayangkan beberapa waktu terakhir. Kondisi media sosial belakangan cukup memprihatinkan, lantaran masih banyak dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang justru kerap menebar kebencian. Tak hanya itu beragam konten hoaks juga menjadi hidangan setiap harinya.  

"Untuk itu kegiatan penting semacam ini menjadi follow-up dari seruan jihad medsos yang dikeluarkan para pimpinan NU beberapa waktu lalu," jelas Pengasuh Pesantren Al-Ghazali Bahrul Ulum Tambakberas ini.  

 

Baca juga:

Peringati Hari Santri 2019, Ribuan Santri Bentangkan 740 Meter Bendera Merah Putih di CFD Jakarta

 

Pria yang juga Kabid Humas Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum ini menambahkan, situasi itu harus mulai menjadi perhatian para santri. Dan pergerakannya juga harus didukung baik oleh pihak pesantren sendiri maupun pihak lainnya.   

Dengan begitu, kemampuan dan kecakapan dalam dunia desain grafis juga produksi konten video akan terwujud, sehingga mereka bisa memenuhi media sosial dengan konten-konten bermanfaat. Hal yang perlu dijaga dalam jihad di media sosial adalah keistiqamahan. Santri dituntut harus produktif dan inovatif dalam membuat desain grafis, begitu juga dengan konten video.   

Memang, lanjut Gus Rudin sapaannya, butuh perjuangan dalam jihad ini. Yang pasti santri hendaknya bisa mengatur waktu, antara ngaji, sekolah dan waktu untuk menyebarluaskan konten-konten mendidik dan menarik di berbagai media sosial.  

"Santri-santri desainer diharapkan menjadi tim pemasaran sekaligus pramusaji terlatih yang mampu menghidangkan makanan bermutu dengan penampilan yang memikat," ungkapnya.  

Hadir sebagai peserta pelatihan para santri yang berasal dari lintas pesantren dan madrasah di Jombang. Mereka mengikuti sejak pagi hingga sore. Berbagai macam menteri desainer disampaikan pemateri dengan sistematis. (jms/nuonline)

 

 

Baca juga:

Libatkan Santri, Tahfizh Properti Resmi Diluncurkan


Back to Top