Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag: Akademisi Bisa Perkuat Ekonomi Syariah

gomuslim.co.id - Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar, Indonesia memiliki potensi besar di bidang ekonomi syari’ah. Hal ini ditandai dengan berkembangnya produk-produk syari’ah yang ditawarkan penyelenggara ekonomi syari’ah. Meski angkanya masih sangat kecil dibanding sistem konvensional, ekonomi syari’ah diprediksi terus menunjukkan perkembangannya yang positif di tahun mendatang. Karena itulah, pemerintah telah membangun infrastruktur penguatan ekonomi syari’ah.

Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional Islam dan Pembangunan Ekonomi (SN-IPE) ke-2 dan Pembukaan Golden FEBI Festival III yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN ar-Raniry, Aceh, Selasa, (15/10/2019) bertempat Auditorium Ali Hasymi. Mengambil tema “Strategi Pengembangan Ekonomi Syari’ah di Indonesia,” kegiatan ini dihadiri direktur KNKS, OJK perwakilan Aceh, Bank Indonesia perwakilan Aceh, Dirut Bank Aceh Syari’ah dan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf.

Dalam sambutannya, Dekan FEBI UIN Ar Raniry, Dr. Zaki Fuad, M.Ag, menyampaikan terima kasih atas kehadiran para narasumber. Menurutnya, momentum kebangkitan ekonomi Syari’ah telah digaungkan dengan dibentuknya KNKS yang dipimpin langsung Presiden RI. Menurutnya, kampus sebagai lembaga pendidikan menjadi pihak yang sangat berkepentingan terlibat banyak dalam pembangunan ekonomi Syari’ah.

 

Baca juga:

Dirjen Bimas Islam Kemenag Gelar Bimbingan Teknis Pengelolaan Perpustakaan Masjid

 

"FEBI telah menjalin kerjasama dengan OJK, BI dan pemerintah aceh untuk membangun infrastruktur ekonomi Syari’ah di Indonesia. Kami juga akan me-launching pusat Ziswaf center dan Ousat Studi Halal, sebagai bukti partisipasi akademisi dalam ekonomi Syari’ah," ujarnya.

Menurut Direktur KNKS, Taufik Hidayat, Indonesia saat ini menjadi sumber rujukan kegiatan ekonomi Syari’ah. Beberapa indikator tampak dalam bidang halal, produk perbankan dan lainnya. Hal ini mendorong KNKS untuk terus membangun infrastruktur bagi penguatan ekonomi Syari’ah.

“Indonesia bukan hanya kaya SDA-nya, namun juga SDM nya melimpah. Tugas kita adalah memfasilitasi SDM ini agar mampu melahirkan ide-ide di bidang ekonomi syari’ah,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Direktur pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Fuad Nasar, menyambut baik langkah-langkah KNKS dalam mendorong terbangunnya infrastruktur ekonomi syari’ah. Dalam perspektif lain, ekonomi syari’ah juga harus didukung oleh pergerakan ekonomi berwawasan spiritual. Dalam hal ini, peran zakat dan wakaf mengambil peran yang luas sebagai bagian penting kebangkitan ekonomi syari’ah.

Fuad mengingatkan, potensi zakat dan wakaf di Indonesia belum sepenuhnya dimaksimalkan pemanfaatannya. Karena itulah, pihaknya terus menyiapkan infrastruktur bagi stakeholder’s yang berkecimpung dalam pemberdayaan keduanya.

“Ada tiga pendekatan yang kami tempuh untuk mendorong potensi zakat dan wakaf, yaitu pendekatan kultural, struktural dan intelektual. Kami sosialisasikan Zawa agar lebih dikenal kalangan millennial, juga kami siapkan regulasi dan infrastruktur. Nah, pendekatan intelektual ini juga menjadi bagian dari tugas akademisi,” ujarnya.

Fuad mengapresiasi penandatangan pembentukan ZISWAF Center dan Pusat Studi Halal yang digagas FEBI UIN Ar-Raniry. Hal ini merupakan Laboratorium sosial yang akan mendongkrak strategi pengembangan ekonomi syari’ah di Indonesia.

Seminar Nasional Ekonomi Syari’ah menandai dimulainya Golden Festival Ekonomi dan Bisnis Islam III yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar Raniry. Kegiatan ini juga ditandai dengan Launching ZISWAF Center dan Pusat Studi Halal. (bimasislam/dbs)

 


Back to Top