Netflix Angkat Sosok Fisikawan Muslim Pakistan dalam Film Dokumenter

gomuslim.co.id - Sebuah film dokumenter Netflix baru-baru ini mengangkat sosok fisikawan Muslim Pakistan, Dr. Abdus Salam. Film ini dibuat untuk mengenang empat puluh tahun prestasinya setelah memenangkan Hadiah Nobel Fisika.

Salah satu produser film, Zakir Thaver, mengatakan Dr. Abdus Salam adalah Muslim pertama yang memenangkan hadiah sains Nobel. "[Dia] sangat berkomitmen pada akarnya dan memperbaiki nasib rakyatnya sehingga dia mengenakan sorban di Stockholm untuk menerima hadiah dari Raja Swedia," ujarnya seperti dilansir dari publikasi BBC, Rabu, (16/10/2019).

Satu karya dari Salam diantaranya adalah kunci untuk mendefinisikan teori fisika partikel yang masih digunakan sampai sekarang. Selain itu, ia juga meletakkan dasar untuk penemuan Higgs boson 2012, partikel yang bertanggung jawab untuk memberikan semua massa partikel lainnya.

Film dokumenter ini menggambarkan dedikasi Salam yang tak tergoyahkan dalam menghadapi kondisi pengujian untuk tiga hal: fisika, keyakinan, dan kebangsaannya.

Sepanjang hidupnya, Salam adalah seorang Muslim yang berdedikasi. Dia mendengarkan Alquran saat bekerja di kantornya di rumahnya di London. Salam tidak pernah melihat agamanya sebagai penghalang untuk menekuni sains.

 

Baca juga:

Masya Allah, Ilmuwan Muslimah Ini Temukan Alat Baru yang Dapat Dengarkan Bacterial Communicate untuk Atasi Infeksi

 

Menariknya, ia berjuang untuk teori terpadu yang akan menjelaskan semua fisika partikel, yang sejalan dengan kepercayaan agamanya. “Kami [fisikawan teoretis] ingin memahami seluruh kerumitan benda mati dalam hal konsep dasar sesedikit mungkin,” kata Salam waktu itu.

Siapa Salam?

Salam, 29 Januari 1926 sampai 21 November 1996, adalah seorang ahli fisika teori Pakistan. Dia adalah peraih Nobel Fisika 1979 bersama Sheldon Glashow dan Steven Weinberg.

Dia merupakan orang Pakistan pertama yang menerima Hadiah Nobel dalam sains. Salam juga orang kedua dari negara Islam yang menerima Hadiah Nobel (setelah Anwar Sadat dari Mesir).

Selain itu, Salam adalah penasihat ilmu pengetahuan untuk Kementerian Sains dan Teknologi di Pakistan dari tahun 1960 hingga 1974.

Sebagai Penasihat Sains, Salam berperan dalam pengembangan Pakistan dalam penggunaan energi nuklir secara damai dan mungkin telah berkontribusi juga bagi pengembangan proyek bom atom Pakistan pada tahun 1972.

Bahkan sampai tak lama sebelum kematiannya, Salam terus berkontribusi pada fisika dan mengadvokasi pengembangan ilmu pengetahuan di negara-negara Dunia Ketiga. (jms/bbc/aboutislam)

 

 

Baca juga:

Irwandi Jaswir Dapat Amanah Jadi Penasehat Pemerintah Arab Saudi di Bidang Industri Halal


Back to Top