Begini Cerita Awal Pertumbuhan Wisata Halal Seribu Masjid

gomuslim.co.id – Pulau seribu masjid yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki nilai terbaik yang juga menjadi destinasi wisata halal di Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Desa Kembang Kuning, Lalu Sujian.

Ia mengatakan, meskipun banyak wisatawan mancanegara yang datang, masyarakat Desa Kembang Kuning dapat menerima perbedaan adat dan budaya yang begitu kentara.

Seperti diketahui, wilayah Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur merupakan Desa yang terletak di kaki Gunung Rinjani yang konsisten mempertahankan adat serta budaya timur dan Islam yang terkandung di dalamnya.

"Kalau ada tamu kita berikan informasi bahwa ini Desa Kembang Kuning dengan pemeluk agama Islam 100%, adat istiadat kita seperti ini, kita harus sopan, berpakaian yang sopan, supaya dia mengikuti budaya kita, jangan kita mengikuti budaya dia," ungkapnya pada Rabu, (16/10/2019).

 

Baca juga:

Kembangkan Wisata Halal, Pemprov NTB dan Pemerintah Uzbekistan Jalin Kerjasama

 

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Desa Kembang Kuning, Roni mengungkapkan awalnya masyarakat melakukan penolakan terhadap para wisatawan mancanegara yang datang dan berwisata di desa. Katanya, saat itu masyarakat beranggapan bahwa kedatangan turis asing membawa dampak buruk bagi masyarakat desa.

“Dengan pakaian yang terbuka, serta gaya hidup yang bebas, membuat masyarakat resah dan menganggap turis asing tidak sesuai dengan kebudayaan yang melekat erat di Desa Kembang Kuning,” jelas Roni

Meski mengaku tak mudah, Roni tetap semangat mensosialisasikan proyek desa wisata yang tengah dibangun oleh Pokdarwis. Salah satu kendala yang ia ungkapkan yakni merubah persepsi negatif masyarakat terhadap turis asing yang datang ke desa.

"Kami jelaskan kenapa tamu manca negara suka pakai celana pendek, meski itu tidak cocok dengan kebudayaan kita, tapi kita coba pahami karena mereka itu kekurangan matahari maka di sini mereka membutuhkan energi matahari, jadi mereka di sini mengenakan celana pendek, seperti itu," jelasnya.

Selain itu, Pokdarwis juga selalu memberikan penjelasan kepada para wisman agar berpakaian sedikit lebih tertutup untuk menghormati para warga Desa Kembang Kuning.

Dengan perjuangannya mensosialisasikan perihal pariwisata selama 3 tahun, akhirnya Roni berhasil memberikan pemahaman dan menjalani proyek desa wisata dengan lancar. Berkat usaha dan kerja sama yang baik antara pemerintah desa, pokdarwis dan masyarakat, akhirnya Desa Kembang Kuning bisa melaju menuju desa mandiri.

“Alhamdulillah, kini pendapatan desa yang berasal dari unit kegiatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan juga dana desa bisa mencapai Rp 300-400 juta per tahun,” paparnya.

Roni menambahkan bahwa masih banyak ide-ide tentang kegiatan atau usaha-usaha untuk meningkatkan kepariwisataan di Desa Kembang Kuning yang menunggu untuk diwujudkan. Lantaran itu, ia berharap akan ada kucuran lebih dari dana desa dan juga semangat masyarakat untuk terus berinovasi dalam pengembangan desa.

"Kami masih memiliki banyak ide yang belum terealisasikan, dana seperti tanaman bunga, kemudian ada ide juga untuk membuat organik park jadi sayuran yang menggunakan organik dan itu harus membutuhkan dana yang besar," pungkasnya. (hmz/detik)

 

 

Baca juga:

Pemerintah Pulau Seribu Masjid Promosikan MotoGP Mandalika Hingga ke Paris


Back to Top