#ISEF2019

Muslim Milenial Punya Peluang Besar Garap Bisnis Wisata Halal

gomuslim.co.id – Bisnis wisata halal menjadi peluang besar untuk digarap para musim milenial Indonesia. Hal ini seiring dengan meningkatnya spirit of hijrah dan lifestyle di kalangan muslim muda Tanah Air.     

Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Ekonomi dan Kawasan Kreatif, Dr Anang Sutono MMPar CHE mengatakan di era revolusi 4.0, muslim milenial Indonesia semakin religius, terkoneksi dengan digital, dan hobi jalan-jalan atau berwisata.

“Wisata halal ini sebuah keniscayaan. Kita melihat bahwa hijrah menjadi salah satu yang tren belakangan ini. Banyaknya kalangan selebritis berhijrah mendorong tren ini menjadi gerakan yang cukup massif di kalangan milenial muslim. Praktis, ini menjadi gerakan yang cool disaat mereka haus akan gairah beragama,” ujarnya dalam acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019, Kamis, (14/11/2019).   

Ia menambahkan, gaya hidup hijrah ini turut merevolusi industri halal. Apalagi fenomena ‘Halal of Things’ dimana tuntutan produk halal tidak terbatas pada makanan dan minuman saja. Tren ini seakan menjadi bola salju yang mendorong produk lainnya berlomba-lomba menjadikan halal sebagai preposisi yang unik.

“Ketika milenial muslim berhijrah, menjadi pribadi yang lebih baik, maka gaya busana juga akan berubah. Yang semua terbuka jadi tertutup, tadinya ketat menjadi longgar mengikuti ketentuan agama yang mereka yakini. Akhirnya, fashion syar’I pun tak ketinggalan gaya, jadi banyak pilihan dan mulai berkelas,” tuturnya.

Tidak hanya itu, Anang menyebut, tren wakaf sebagai gerakan ekonomi keumatan juga semakin berkembang. Semakin banyak institusi LAZIS bahkan bank syariah yang menawarkan produk-produk wakaf, khususnya wakaf produktif dan tunai.

Dari sisi entreprenurship, milenial muslim juga tidak mau hanya menjadi pasar empuk. Beberapa dari mereka ingin menjadi bagian dalam menikmati kue ekonomi pasar muslim yang menggiurkan. Berbagai perusahaan hingga startup bermunculan, dan uniknya banyak dikelola secara syar’i sesuai dengan nilai-nilai Islam.

 

Baca juga:

Mastercard dan CrescentRating: Tren Muslimah Lakukan Solo Traveling Meningkat

 

“Misalnya Ukhuwah Group yang digawangi oleh Teuku Wisnu dan Jannah Corp-nya Irwansyah yang menjadi pionir artis-artis. Mereka mengelola perusahaan dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai values maupun budaya perusahaan. Bekerja di perusahaan sebagai bagian dari ibadah, yang tidak hanya mengutamakan profit tapi berkah dan kebermanfaatan,” paparnya.

Hadirnya aplikasi digital seperti Muslim Pro dan bermunculannya marketplace yang menunjang lifestyle dan industri halal menjadi bukti bahwa pasar muslim sangat menjanjikan. Dari sisi konten hiburan dan edukasi Islam juga semakin kekinian dan relevan dengan hadirnya Nussa untuk segmen anak-anak.   

“Di sektor leisure, kini mulai muncul Mall yang mengusung konsep muslim sebagai diferensiasi di tengah menjamurnya Mall konvensional. Sekarang kalau musala di mall nya tidak bagus atau tidak ada, pasti akan ditinggalkan. Jadi ada peluang bagi milenial untuk berbisnis di halal tourism. Bayangkan saja, transaksi milenial tourism di seluruh dunia itu 1400 triliun,” tuturnya.

Sementara itu, Dwi Hantoro, perwakilan dari Bank Indonesia mengatakan pihaknya terus mendorong pengembangan ekosistem rantai nilai halal (halal value chain) untuk wisata halal. Salah satunya dengan mendukung kemudahan pembayaran dalam transaksi.  

Menurutnya, rantai nilai halal ini sangat penting. Jika salah satu tidak ada, maka efeknya yang lain tidak akan berarti. Begitu pun dengan prinsip ekonomi syariah, hubungan kegiatan usahanya antar satu dengan hal lain yang bergantungan harus terkait.

“Bank Indonesia mendukung wisata halal dan mendorongnya agar semakin bagus. Kami juga melakukan sinergi dengan kemenpar, pemerintah pusat, daerah dan pelaku bisnis. Sinergi ini tentu diharapkan satu sama lain saling mendukung untuk pengembangan wisata halal secara berjamaah,” ungkapnya. (jms)

 

 

Baca juga:

Aceh Tawarkan Investasi Wisata Halal ke Investor Dunia


Back to Top