#ISEF2019

Staf Ahli Kemenparekraf: Ini Tiga Elemen Penting untuk Percepatan Wisata Halal

gomuslim.co.id – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus mendorong pengembangan wisata halal di Indonesia. Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Ekonomi dan Kawasan Kreatif, Anang Sutono mengatakan pihaknya sudah menyiapkan rencana yang fokus kepada tiga elemen penting dalam pariwisata.

Anang yang juga Ketua Tim Percepatan Pengambangan Pariwisata Halal Kemenpar ini menyebut tiga elemen tersebut meliputi perbaikan destinasi, marketing, industri, dan kelembagaan.

“Jadi kita berbicara bagaimana wisata halal dikembangkan untuk lima tahun yang akan datang. Destinasinya kita rapikan, marketingnya kita bantu dan industri dan kelembagaannya kita mantapkan,” ujarnya kepada gomuslim dalam acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019, Kamis (14/11/2019).  

Menurutnya, langkah itu merupakan hal fundamental sehingga pihaknya mempunyai strategi-strategi tentang bagaimana mengembangkan pariwisata halal di destinasi-destinasi pariwisata prioritas halal.  

Adapun rencana strategis (renstra) pengembangan pariwisata halal Indonesia untuk lima tahun ke depan, Kemenpar menyiapkan 10 provinsi untuk destinasi-destinasi pariwisata prioritas wisata halal. 

 

Baca juga:

Wakil Rakyat Aceh Ini Minta Kemenparekraf Jadikan Aceh sebagai Pusat Wisata Halal

 

Sepuluh provinsi tersebut di antaranya Provinsi Aceh, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Riau dan Kepulauan Riau (Kepri), Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan Lombok Mandalika, dan Sulawesi Selatan (Sulsel).

Ia berharap, pengembangan ini bisa menarik jumlah wisatawan mancanegara khususnya wisman moslem sebanyak 3,6 wisman muslim hingga akhir 2019 dengan spending senilai US$1.465/wisman dan 4 juta wisman muslim pada 2020 dengan pengeluaran senilai US$1.509/wisman.

Dwi Hantoro, perwakilan dari Bank Indonesia (BI) mengatakan pihaknya juga mendorong pariwisata halal untuk berkembang. Menurutnya, saat ini wisata halal sudah menjadi kebutuhan, khususnya kalangan milenial muslim.  

“Di banyak tren itu sama. Kalau zaman dulu, yang piknik itu hanya mereka yang banyak duit. Tapi sekarang, anak sekolah pun pengennya berwisata. Tapi kalangan ini biasanya melihat dulu wisatanya seperti apa, tempatnya di mana, fasilitasnya apa saja, ada makanan halal atau tidak, dan fasilitas untuk salatnya gimana,” paparnya.    

Ia menambahkan, wisata halal hadir karena adanya permintaan dan penawaran. Dari hal tersebut, kemudian muncul kebutuhan untuk para wisatawan seperti makanan, pakaian, akomodasi, transportasi, keuangan, fasilitas ibadah dan lainnya.

“Karena itu, kami juga mendorong pengembangan ekosistem rantai nilai halal (halal value chain) untuk wisata halal ini. Salah satunya dengan mendukung kemudahan pembayaran dalam transaksi,” katanya. (jms)

  

 

Baca juga:

Kemenparekraf Rancang Pengembangan Halal Tourism di 10 Titik Indonesia


Back to Top