Sea Games 2019 di Filipina Diterjang Isu Minimnya Makanan Halal

gomuslim.co.id – Isu besar menghantam Pagelaran Sea Games 2019 di Filipina. Isu itu tentang persoalan makanan halal yang minim saat Sea Games berlangsung pada November sampai Desember 2019. 

Dilansir kantor berita coconuts.co, Pemerintah Filipina atau khususnya pihak penyelenggara SEA Games, tak lantas mengantisipasi hal tersebut. penyelenggaraan event Sea Games yang notabene diikuti beberapa negara dengan mayoritas atletnya beragama islam.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Katolik, cukup lumrah ketika makanan halal sulit didapatkan di Filipina. Apalagi, penduduk beragama Islam di Filipina yang terbiasa dengan konsumsi makanan halal yang 5,57%.

Salah satu yang bersuara lantang soal minim makanan halal adalah kontingen Singapura. Perwakilan kontingen Singapura pun telah menulis surat kepada penyelenggara untuk meminta “perhatian mendesak dan segera” atas minimnya pilihan makanan halal. Pasalnya, kondisi itu menyebabkan beberapa anggota kontingen terpaksa melewatkan makan siang.

Ketua kontingen Singapura, Juliana Seow, kemarin mengirim surat kepada penyelenggara untuk menampaikan keluhan tentang makanan halal untuk para pemain bola yang sebagian besar penganut Islam. Menurutnya, belum diberi porsi makanan halal yang cukup di Century Park Hotel, tempat mereka menginap. Variasi makanan halal juga terbatas, kata mereka.

 

Baca juga:

Sambut Pengunjung Muslim di Sea Games 2019, Filipina Terapkan Skema Sertifikasi Halal

 

 “Suatu makan malam, pilihan makanan halal hanyalah nasi putih, roti, dan brinjal lasagna. Dan dengan tim lain yang juga membutuhkan makanan halal, tidak cukup jika harus berkeliling,” keluh Seow.

“Kami telah melakukan beberapa penyesuaian dengan memasukkan suplemen makanan energi yang kami bawa ke dalam makanan para pemain. Hal itu untuk memastikan kondisi fisik mereka tidak terpengaruh,” sambungnya Seow.

Sementara itu, pada satu kondisi, beberapa ofisial dari tim Singapura menangguhkan makan siang karena tidak cukup makanan halal. Bahkan pelatih tim sepak bola putri Filipina, Let Dimzon, merasa terganggu oleh kualitas makanan untuk para atlet yang dinilai di bawah rata-rata.

“kualitas dan kuantitas makanan tidak cukup baik, bahkan variasinya. Seperti pagi ini tidak cukup hanya nasi dan kikiam dan telur; tidak ada nutrisi,” keluhnya. Kikiam adalah versi lokal dari makanan Hokkien, sosis yang terdiri dari daging dan sayuran yang berbeda.

“Ini memalukan karena saya pernah berada di event yang berbeda dan kami belum pernah mengalami situasi seperti ini di tempat lain. Kami adalah negara tuan rumah dan agak tidak teratur, jadi kami merasa tidak enak,” sambung Dimzon menambahkan.

Kemudian, Pelatih tim sepak bola putri Malaysia, Joceph Jacob, juga tidak senang dengan apa yang mereka makan.

“Hari ini sarapan saya dan sebagian besar pemain hanya roti dan telur. Kami memiliki turnamen besar. Saya berharap mereka akan memperbaiki makanan,” katanya.

Kondisi serupa pun sempat dirasakan kontingen sepak bola Indonesia. Menurut salah satu staf pelatih timnas U-23 Indonesia, Feri Patriyadi, minim makanan halal sempat dirasakan saat menginap di Hotel Century Park.

Namun, krisis dapat teratasi berkat campur tangan Wakil Ketua Umum PSSI, Cucu Soemantri, yang membantu menyediakan makanan halal, pun memindahkan tempat anggota tim sepak bola Indonesia menginap ke Jen Hotel.

“Saat awal tiba memang bermasalah (dengan ketersidiaan makanan halal). Tapi, waketum PSSI menyiapkan makanan halal. Lalu, pindah hotel (Century Park ke Jen Hotel), masalah makanan halal bisa teratasi ,” tutur Feri.

“Di Jen Hotel variasi makanannnya lebih beragam dan pemain lebih dapat menerima makanan yang disediakan. Jadi hal itu tak mempengaruhi kesiapan tim,” urai Feri menambahkan.

Tapi, seorang influencer pro-pemerintah, Krizette Chu, bersuara di media sosial untuk menegaskan bahwa bukan masalah Filipina jika atlet tidak dilayani makanan yang baik selama menjelang pertandingan. Termasuk soal minim makanan halal.

Dalam sebuah unggahan di Facebook, yang lantas mengundang banyak kritik, penulis Manila Bulletin itu mengatakan pelayanan untuk makanan dan air hanya berlaku selama pertandingan SEA Games 2019, bukan sebelum atau sesudahnya.

“Tidak sebelumnya, tidak setelah, tidak selama pertandingan pra-kompetisi. Jika mereka tiba satu minggu atau beberapa hari lebih awal sebelum waktu resmi dimulai, bukan tugas negara kami untuk memberi makan semua orang. Negara-negara ini memiliki chef de mission atau komite olahraga sendiri yang harus merawat atlet mereka sendiri,” tulisnya.

Sementara itu, juru bicara komite penyelenggara, Alan Peter Cayetano, telah meminta maaf kepada para atlet dan ofisial atas serangkaian kesalahan yang telah terjadi selama beberapa hari terakhir. Termasuk transportasi dan akomodasi. Namun, dia mengatakan kepada warganet lokal agar berhenti bersuara keras yang berisiko mempermalukan Filipina. (hmz/coconuts.co)

 

 

 Baca juga:

Atlet Panahan Berhijab Ini Raih Perak di Asian Games 2018


Back to Top