Begini Cara Pesantren Gontor Putri Tangani Masalah Kesehatan Santriwati

gomuslim.co.id – Sebagai upaya mencegah terjadinya masalah kesehatan, pengelola Pondok Modern Darussalam Gontor Putri di Ngawi, Jawa Timur memiliki cara tersendiri. Hal tesebut dilakukan karena pondok pesantren yang merupakan tempat bagi berkumpulnya banyak orang dapat menjadi tempat dimana penyakit mudah untuk menular.

Direktur Ponpes Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1 Ustad Dr. KH Fairuz Subakir Ahmad mengatakan mereka memiliki organisasi pelajar dengan bagian kesehatan yang kerap berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Ngawi.

"Bagian kesehatan bertanggung jawab kepada seluruh santri, sampai tingkat kamar dan kamar mandi, jemuran, semuanya dan selalu kerja sama dengan Dinas Kesehatan," kata Fairuz di Ngawi, Jawa Timur.

 

Baca juga:

KH. Hasan Abdullah Sahal: Ulama Kharismatik Penerus Kepemimpinan Pesantren Modern Gontor

 

Lebih lanjut, Fairuz mengatakan bahwa pihak pesantren bekerja sama dengan puskesmas juga sering memberikan edukasi kepada para santriwati terkait kesehatan.

Meskipun ada beberapa masalah kesehatan yang sempat dialami para santriwati di pondok pesantren tersebut. Dua yang paling parah adalah hepatitis dan tuberkulosis.

"Dulu hepatitis tapi cepat ditangani kemudian semua santri kita skrining dan libur total. Yang terjangkit, alhamdulillah bisa kita tangani," kata Fairuz.

Dia mengatakan pada 2018 sempat ada seorang santriwati yang terkena tuberkulosis. Di 2019, seorang mahasiswi juga mengalami masalah tersebut. Namun, keduanya merupakan bawaan dari rumah dan berhasil diobati hingga selesai. Selain itu, mereka juga sempat meliburkan para santri dari kegiatan belajar mengajar untuk melokalisasi penyakit dan mencegah penularan.

"Salah satu syarat masuk ke Gontor memang kami tidak mengizinkan santri yang mempunyai potensi sakit menular," ujarnya.

Terkait fasilitas kesehatan, pesantren juga memiliki Balai Kesehatan Santri Masyarakat (BKSM). Di sana ada 15 kamar rawat inap, satu ruang isolasi, dengan dua dokter dan satu dokter gigi.

"Insya Allah kalau kami tidak mampu selalu bekerja sama dengan beberapa rumah sakit dan puskesmas. Insya Allah ke depan kami akan memberikan klinik pratama dan mudah-mudahan didukung oleh pak menteri (Menteri Kesehatan Terawan)," kata Fairuz.

Salah satu kader TB di BKSM, Farah Afifah, mengatakan bahwa mereka membantu menjaga kesehatan santriwati yang ada di ponpes tersebut. "Kalau mereka sedang sakit, kami yang terjun pertama kali," kata Farah.

Selain itu, kader kesehatan dari BKSM juga melakukan penyuluhan bagi para santri. Baik soal penyakit kulit, flu dan batuk, hingga soal nutrisi.

Salah satu penyakit yang paling ditakutkan adalah tuberkulosis atau sering disingkat TB atau TBC. Untuk itu, Farah mengatakan mereka juga kerap melakukan edukasi kepada para santriwati soal penyakit ini.

"Sosialisasi memberikan edukasi soal penting menjaga badan mereka. Kami juga menanamkan kepada mereka kalau TBC ini bisa ditangani, bisa diobati sampai tuntas," kata Farah. (nov/dbs/lip6)

 

 

Baca juga:

KH. Imam Zarkasyi, Penggagas Pondok Modern Pertama di Indonesia


Back to Top