Bersifat Sukarela, Begini Penjelasan Wamenag Terkait Sertifikasi Da'i

gomuslim.co.id – Sertifikasi penceramah atau dai mulai jadi sorotan banyak kalangan. Namun, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi menegaskan bahwa sertifikasi dai ini sifatnya voluntary atau sukarela sehingga tidak ada paksaan dalam proses pemberian sertifikat uji kompetensi penceramah tersebut.

"Ini sifatnya voluntary, sukarela. Tidak kemudian diartikan yang tidak mengikuti sertifikasi ini tidak boleh ceramah," ujarnya, Rabu, (04/12/2019).

Zainut yang juga merupakan pengurus Majelis Ulama Indonesia mengatakan dai bersertifikat itu merupakan program MUI yang berupaya memberi sertifikat kompetensi penceramah.

"Apakah nanti di masjid di tempat majelis taklim mensyaratkan yang memberikan ceramah sudah bersertifikat atau tidak itu lain 'kan gitu," katanya.

Menurutnya, sertifikasi dai itu merupakan upaya MUI untuk meningkatkan kompetensi penceramah. Dai melalui sertifikasi agar benar-benar memiliki pengetahuan keagamaan yang memadai dan memiliki komitmen kebangsaan yang kuat. "Dua hal ini yang sesungguhnya menjadi tujuan dari program dai bersertifikat," tuturnya.

 

Baca juga:

KH Ma'ruf Amin Jelaskan Pentingnya Sertifikasi Da'i

 

Zainut mengatakan MUI memiliki jaringan dari tingkat pusat hingga daerah untuk memproses program dai bersertifikat. "Tentu berdasarkan zona wilayah, panduannya dari pusat. MUI juga bekerja sama dengan ormas Islam yang juga mengerjakan hal yang sama. Fastabiul khairat (berlomba dalam kebaikan)," ungkapnya.

Sebelumnya, Wakil Presiden RI KH. Ma’ruf Amin mengungkapkan dua hal alasan standardisasi diperlukan. Pertama, standardisasi perlu untuk menjamin kompetensi para da’i. Da’i-da’i yang sudah dikenal di masyarakat secara umum memiliki kapabilitas keilmuan keislaman yang mumpuni.

Namun, beberapa da’i juga ada yang masih memiliki cela seperti salah membaca ayat Al-Quran atau hadist sehingga maknanya berubah total. Padahal, posisi da’i sangat penting di tengah masyarakat utamanya sebagai panutan dan rujukan.

Kedua, kata Kiai Ma’ruf, standardisasi dai menjadi penting karena untuk menguji integritas seorang dai. Integritas yang dimaksud di sini salah satunya adalah integritas kebangsaan. Sehingga dakwah tidak boleh bertentangan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. (jms/antara/mui)

 

Baca juga:

Tidak Wajib, Ini Kata Menag Terkait Rencana Sertifikasi Da'i


Back to Top