Ini Kata OJK Terkait Penguatan Modal Bank Muamalat

gomuslim.co.id – Penguatan modal di Bank Muamalat Indonesia (BMI) oleh para calon investor masih berproses. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator terus mengawasi penguatan modal bank syariah pertama di Indonesia itu.

Juru Bicara OJK, Sekar Putih Djarot mengatakan pihaknya terus melakukan komunikasi dengan manajemen dan pemegang saham. Pihaknya juga tetap mendorong dan mengawasi prosesnya. Hanya saja, dia tidak merinci calon-calon investor yang saat ini sedang dalam proses dan berminat menanamkan modalnya di Bank Muamalat.

“Secara umum Bank Muamalat masih beroperasi dan kondisi likuiditas bank yang juga dinilai masih baik,” ujarnya di Jakarta, Senin, (09/12/2019).

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo menegaskan calon investor strategis Bank Muamalat perlu menunjukkan keseriusan dengan menaruh dana di rekening penampung (escrow account) atau rekening pihak ketiga.

Penempatan dana itu, kata dia, untuk memastikan masing-masing pihak melaksanakan kewajibannya. Ia menambahkan calon investor yang berminat terhadap bank syariah tertua di Indonesia itu untuk dapat segera menghubungi pemilik Bank Muamalat, dan juga melapor kepada regulator.

"Calon investor harus memenuhi persyaratan dan persetujuan dari Pemegang Saham Bank, menunjukkan keseriusan dengan menempatkan dana escrow account, dan menjamin sustainable (keberlanjutan) bisnis bank," katanya.

Selain itu, OJK juga meminta manajemen Bank Muamalat untuk terus menerapkan langkah perbaikan dan tata kelola perusahaan yang memadai.

Bank Muamalat, bank syariah tertua di Indonesia ini, memang sedang berburu tambahan modal untuk menyehatkan bisnisnya. Bank Muamalat baru saja mengumumkan rencana Penawaran Umum Terbatas IV dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu.

Dalam keterbukaan informasi di situs resminya, Bank Muamalat berencana menerbitkan 32,96 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp100.

 

Baca juga:

Bantu Permodalan Bank Muamalat, Komisi XI DPR Segera Bentuk Panja

 

Sebelumnya, Komisi XI DPR RI meminta OJK untuk lebih progresif menentukan langkah penyelamatan Bank Muamalat agar tidak semakin berlarut yang malah menggerogoti kondisi bank syariah itu.

"Dia (OJK) regulator, dia tidak boleh bersandar terus dengan kehati-hatian, harus segera ambil suatu batas time limit, kapan dilakukan langkah penyelamatan," kata Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fathan Subhi dalam diskusi Inkubasi Bisnis Syariah di Jakarta, Kamis.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menyebutkan per Agustus 2019, laba bank syariah pertama di Indonesia itu anjlok 94 persen hanya mencapai Rp6,8 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu.

Tidak dipungkiri, lanjut dia, jika tidak segera diambil langkah tegas sari regulator kondisi bank syariah tersebut bisa jadi semakin tidak sehat karena kondisi likuiditas merosot.

"Kami dorong OJK segera mengambil langkah, menentukan investor," katanya sembari menambahkan ada dua investor berencana masuk yakni Al Falah dan Ilham Habibie.

Keberadaan investor, lanjut dia, dinilai sangat penting untuk menyuntikkan modal bagi Bank Muamalat. Fathan mengungkapkan investor bisa berasal dari dalam atau luar negeri, asalkan berdasarkan aspek bisnis bukan karena politik atau atas dasar kasihan.

Komisi XI DPR RI, kata dia, menjadwalkan akan melakukan pembahasan khususnya terkait investor dengan OJK. Bank Muamalat, lanjut dia, masih memiliki fundamental yang kuat dan kokoh untuk diselamatkan.

Permasalahan yang dihadapi Bank Muamalat, lanjut dia, juga termasuk masalah yang biasanya dihadapi perbankan termasuk syariah yakni kredit macet.

Menurut dia, permasalah tersebut masih bisa dilakukan penyelamatan salah satunya dengan restrukturisasi kredit macet sekitar Rp8 triliun yang terjadi diduga akibat belum optimalnya manajemen risiko. (jms/antara)

 

 

Baca juga:

Bank Muamalat-Takaful Keluarga Teken Kerjasama Pemasaran Asuransi Pendidikan Syariah


Back to Top