IAEI Jawa Timur Dukung Penegak Hukum Proses Kasus Penipuan Investasi Syariah

gomuslim.co.id - Tidak bisa dipungkiri, kasus penipuan investasi syariah berpotensi menciderai gerakan ekonomi syariah yang selama ini dibangun oleh pemerintah. Bahwa bisnis properti syariah yang merupakan bagian dari ekonomi syariah harus benar-benar berlandaskan pada sumber hukum Islam, yakni Alquran, hadis Nabi Muhammad (as Sunnah), ijma' (kesepakatan) para sahabat, dan qiyas (kesepakatan para ulama). Demikian pandangan Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Jawa Timur (Jatim) terkait adanya penipuan berkedok syariah.

Sekretaris Umum DPW IAIE Jawa Timur, Fathurrazi mengimbau masyarakat untuk mencermati betul legalitas hingga kepastian investasi sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam properti syariah.

 

Baca juga:

Cegah Penipuan Rumah Syariah, REI Lakukan Pembinaan dan Pelatihan

 

"Selain permintaan pasar untuk memenuhi kebutuhan rumah tinggal dengan nuansa religi, juga karena faktor investasi pada bidang properti yang masih diminati masyarakat karena nilainya terus meningkat sehingga dapat menjadi hedging dari gerusan inflasi dan risiko lainnya," kata Fathurrazi.

Dia mengungkapkan bahwa promosi properti syariah pada awalnya dilakukan di tempat-tempat ibadah. Dalam perkembangannya, promosinya juga dilakukan di hotel-hotel melalui seminar tentang berbisnis atau bersyirkah secara halal.

DPW IAEI Jawa Timur dengan tegas mendukung penegak hukum untuk memproses pengembang yang diduga melakukan tindak penipuan agar dugaan penipuan ini jelas dan tegas perkaranya. Jika terbukti melakukan penipuan, maka pelaku penipuan properti syariah tidak hanya dijerat pasal penipuan tetapi juga pasal penodaan agama Islam.

 

Baca juga:

Segmen Ritel dan Konsumer Masih Jadi Fokus Pembiayaan Bank Syariah

 

Dia menerangkan bahwa eonomi syariah, termasuk bisnis syariah di dalamnya sangat menentang adanya penipuan dan ketidakjelasan yang dapat merugikan pihak lain.

"Allah telah berfirman dalam Alquran surat An-Nisa ayat 29, 'Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang terjadi atas dasar saling rida (suka sama suka) dari kalian'," ucapnya. (Mr/times)


Back to Top