Dirut Kepesantrenan DT: Santri Millenial Harus Punya Andil untuk Kemajuan

gomuslim.co.id - Santri pada umumnya didefinisikan sebagai seseorang yang belajar di pesantren mengenai ilmu agama, tauhid, fiqih, tasawuf, dan akhlak. Namun, definisi itu kini telah mengalami perluasan makna yang mengartikan santri tidak hanya terbatas pada definisi itu, salah satunya istilah santri milenial. 
 
Direktur Kepesantrenan Daarut Tauhid (DT), Ustadz Maulana Yusuf, menjelaskan santri milenial adalah santri yang hidup di era milenial yang serba cepat, praktis, dan terkoneksi dengan dunia internet. Menurutnya, di era revolusi industri 4.0 saat ini, santri milenial harus mampu ikut andil dalam perkembangan zaman demi kemajuan peradaban.
 
“Memang fenomena ini sudah dirasakan, termasuk di lingkungan Daarut Tauhiid (DT). Hampir rata-rata santri DT mencoba menjadi apa yang saya sampaikan tadi. Milenial boleh, yang terpenting tidak berlebihan dan melampaui aturan agama,” ujarnya, Senin (20/1/2020). 
 
Baca juga: 
 
  
Menurutnya, DT sendiri sudah berhasil menciptakan ruang untuk para santri yang memiliki kemampuan lebih. Artinya, modernisasi di DT sudah dialami, bahkan dijalankan. 
 
“Kalau hari ini ukurannya, santri milenial harus peka terhadap dakwah digital. Justru pimpinan ponpes KH Abdullah Gymnastiar sudah mempopulerkan itu. Dan ternyata itu berimbas pada kurikulum santri juga kebiasaan santri. Saya bersyukur, asalkan tetap pada kontrolnya,” bebernya.
 
Santri DT, baik formal atau santri program, lanjutnya, harus mampu berkembang di tengah-tengah era digital tanpa melupakan kemampuan dan pengetahuan agama. 
 
“Santri DT bisa dengan cita-citanya sebagai tahfiz. DQ, APW, PPM, dan PMK tentu harus mampu menjadi santri milenial dengan keunggulan masing-masing. Tentunya, definisi santri milenial tidak lepas dari ilmu agama. Kalau di DT, tauhid dan makrifatullah tentu harus bisa dimanfaatkan, diolah untuk kemudian hari ditularkan ilmu dan pengetahuannya,” jelasnya.
 
Selain itu, Ustadz Maulana juga berpesan kepada seluruh santri untuk tetap mempertahankan jiwa ruh ikhlas. Meskipun sudah berada di dunia yang serba canggih, jangan sampai mereka melupakan bahwa ruh dari semua amal adalah keikhlasan.
 
“Ikhlas dapat menjadikan hidup kita lebih mudah dan menumbuhkan jiwa tanggung jawab pada amanah yang sedang kita perjuangkan atau jalani,” tutupnya.(mga/daaruttauhid)

Back to Top