Ini Proyeksi Aset Keuangan Islam Global Tahun 2020

gomuslim.co.id - Industri keuangan Islam global akan terus tumbuh pada tingkat yang relatif lambat yakni sekitar 5% pada tahun 2019 dan 2020 dalam hal aset. Demikian laporan 'Islamic Finance Outlook 2020' yang baru dikeluarkan oleh perusahaan intelijen bisnis yang berbasis di AS, S&P Global Ratings.

Ini mengikuti tingkat pertumbuhan 10% pada tahun 2017 tetapi pada tahun 2018 hanya tumbuh 2% -3%, terutama karnea penerbitan sukuk yang datar dan umumnya kondisi ekonomi yang lebih lemah di pasar inti industri. Pengecualian yang menonjol dari Malaysia, Indonesia dan Turki, serta Qatar di mana sejumlah emiten telah kembali ke pasar modal akhir-akhir ini.

Laporan itu mengatakan tidak mengharapkan rebound cepat di pasar, tetapi mengakui bahwa sektor sukuk telah meningkat dari total volume penerbitan mendekati $ 130milyar di 2018. Hanya sedikit lebih dari sekitar $ 125milyar pada 2017, menjadi $ 162 milyar pada tahun 2019. 

Kepala Keuangan Islam Global  S&P Global Ratings, Mohamed Damak mengharapkan volume penerbitan tahun 2020 mencapai $ 170 miliar, dengan akselerator sukuk lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG). Ini termasuk sukuk hijau, dan lebih banyak perusahaan menengah dan lembaga keuangan yang menerbitkan obligasi syariah karena standarisasi yang lebih baik dalam dokumentasi hukum dan interpretasi syariah, yang membuatnya lebih murah dan tidak rumit untuk menerbitkan sukuk.

 

Baca juga:

Wadah Milenial Hijrah, ‘Tajir’ Fasilitasi Usaha Ekonomi Syariah

 

Laporan menyebutkan pertumbuhan akan disumbang oleh tiga faktor utama yakni fintech, sukuk, dan standardisasi. Selain itu Arab Saudi dan Qatar diproyeksikan akan menjadi penyumbang utama pertumbuhan pasar keuangan syariah.

Damak menilai tidak akan ada pertumbuhan drastis yang signifikan tahun ini. "Namun industri pasar modal syariah, seperti sukuk akan menyumbang signifikan, terutama dengan adanya akselerator dari sisi sukuk hijau, dan standardisasi penerbitan sukuk untuk perusahaan swasta," katanya seperti dilansir dari publikasi Gulf Times, Rabu (22/01/2020).

Negara Iran, Arab Saudi dan Malaysia menjadi negara yang memiliki aset keuangan Syariah lebih dari 500 miliar dolar AS atau menyumbang 65 persen dari total aset keuangan syariah global.

 

Baca juga:

Gubernur Jatim Minta Dukungan Wapres terkait Rencana Bangun Indonesian Islamic Science Park

 

Laporan Pengembangan Keuangan Islam 2019 yang disusun oleh Thomson Reuters dan Islamic Corp untuk Pengembangan Sektor Swasta memperkirakan bahwa industri keuangan Islam akan mencapai total aset 3,47 triliun dolar AS pada tahun 2024. Dengan asumsi, pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 5,5 persen yang dihitung dari 2,52 triliun dolar AS pada tahun 2018.

"Prakiraan ini telah direvisi turun dari yang disediakan dalam IFDI 2018 untuk mencerminkan perkembangan saat ini," kata laporan itu. 

Lembaga pemeringkat Moody's dalam laporan sebelumnya juga memperkirakan pertumbuhan yang stabil dalam perbankan Islam di sebagian besar pasar inti Islam, dengan faktor tambahan yang menjadi merger antara bank-bank Islam dan konvensional di GCC, di mana bank-bank Islam adalah entitas yang tersisa, yang juga bisa mendorong satu kali saja. (Mr/gulftimes)


Back to Top