Kampanye Wakaf Tunai, QNF Letakan Batu Pertama Pembangunan Baitul Quran 

gomuslim.co.id – Qobasat Annur Foundation (QNF) melaunching program wakaf tunai guna terciptanya kesejahteraan umat. QNF juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Atrium Baitul Quran di Pesantren Terpadu Daarul Fikri, Warung Bambu Residence, Desa Telaga Murni, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Kamis (23/1/2020).

Ketua Umum QNF, Ahmad Husein Dahlan mengatakan pihaknya akan mengkampanyekan wakaf tunai di wilayah Kabupaten Bekasi. Katanya, wakaf tunai merupakan gerakan wakaf yang mampu menjadi perhatian banyak kalangan guna memberikan kesetaraan perekonomian umat.

“Kalau zakat dan infaq itu, harus habis yang akan dibagikan kepada 8 golongan. Justru wakaf itu jika telah diberikan oleh wakif melalui pengelola, tidak boleh langsung dibagikan. Melainkan, dikelola lalu dikembangkan menjadi usaha, dan hasilnya nanti bisa digunakan untuk kemaslahatan umaat,” ujarnya kepada gomuslim.

Menurutnya, Wakaf ini akan menjadi hal penting yang juga sebagai amanah besar. Ia menyebut wakaf bisa menjadi awal penyelesaian problematika umat secara global. Bahkan, sambung dia, wakaf ini dapat memberikan berupa beasiswa kepada seluruh anak Indonesia demi perubahan kesetaraan hidup di masa mendatang.

 

Baca juga:

Dorong Pengelolaan Wakaf, Kemenag Lantik Pengurus BWI Depok

 

“Melalui wakaf yang berkembang, nantinya akan mampu memberikan beasiswa kepada seluruh anak-anak muslim di Indonesia. Contohnya saya, kuliah menggunakan beasiswa wakaf saat melanjutkan kuliah di Arab Saudi. Nah, pengalaman ini, saya yakin mampu diwujudkan melalui program wakaf yang akan kita jalani,” terangnya.

Ia menyatakan, program wakaf QNF bukan hanya berlaku kepada para wali murid di Pesantren Daarul Fikri saja, melainkan kepada seluruh kalangan masyarakat. Ia menargetkan pada 2020 ini wakaf tunai mampu menembus angka Rp 14 miliar.

“Insya Allah melalui Pemda Kabupaten Bekasi, kami akan menggalang dana wakaf di sana. Semoga Allah memberikan jalan. Nanti kami memberikan beberapa program wakaf seperti pembangunan Atrium Baitul Quran ataupun pembangunan kelas dan program lain yang mampu meningkatkan perekonomian umat. Karena itu, kami berharap wakaf tunai bisa mencapai target Rp 74 miliar di tahun kelima. Karena diluar negeri, wakaf ini potensinya sudah mencapai 10.000 triliun,” jelasnya.

Sementara itu, Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI), Mohammad Nuh mengungkapkan biaya umat terbagi dua yaitu biaya operasional dan juga biaya modal. Ia menyebut zakat, infaq, sedekah merupakan biaya operasional yang akan habis. Akan tetapi, untuk wakaf tidak boleh habis karena akan dijadikan sebagai modal.

Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI) yang juga selaku Ketua Dewan Pers, Mohammad Nuh

“Jika bangsa ini punya dana abadi (sebutan dana wakaf/red), urusan pendidikan, kesejahteraan umat akan terselesaikan. Andai Pemerintah melalui APBN mau memberikan wakaf berupa dana tunai, yang akan bertambah terus menerus (tidak terpakai karena dana abadi), apabila ada musibah seperti adanya sekolah rusak atau bencana alam, maka akan terselesaikan. Karena dana wakaf atau dana abadi tersebut akan lebih dahulu dikelola agar kembali berkembang yang nantinya akan mampu memberikan solusi untuk umat,” kata Nuh yang juga sebagai Ketua Dewan Pers ini.

Melalui QNF, ia mengimbau untuk dapat mensosialisasikan tren wakaf tunai kepada masyarakat. Bahkan ia berharap, QNF mampu menjadi contoh perkembangan wakaf tunai di wilayah Kabupaten Bekasi. “Kalau sudah banyak yang tahu tentang wakaf tunai, apa saja manfaatnya. Insya Allah akan menarik perhatian semua kalangan yang terbilang kelas atas untuk menjadi orang dermawan guna membangun perekonomian umat,” pungkasnya.

Untuk diketahui, program wakaf akan dikembangkan di beberapa sektor seperti pendidikan, sosial, tempat ibadah, bantuan bencana alam, bedah rumah bagi dhuafa dan bantuan untuk dunia Islam. Bahkan, Ahmad Husein menegaskan, dalam waktu dekat QNF akan membangun sumur bor di wilayah Cikarang Barat. (hmz)

 

Baca juga:

BWI Terima Wakaf Paten Konstruksi Sarang Laba-Laba


Back to Top