IMSA Hadirkan Layanan Perjodohan Muslim Indonesia di Negeri Paman Sam

gomuslim.co.id – Indonesian Muslim Society in America (IMSA) memberikan pelayanan perjodohan masyarakat Muslim Indonesia di Amerika Serikat. Speed dating untuk perjodohan merupakan istilah mengemuka dalam Muktamar IMSA yang dilakukan seksi matrimonial masyarakat Muslim Indonesia di Amerika tersebut.

Pengurus matrimonial service IMSA Wiwied Irfianti mengungkapkan, pengelolaan layanan perjodohan melibatkan orangtua Muslim Indonesia di Amerika. Katanya, Orangtua akan memegang kendali dalam urusan perjodohan. Namun, ia menolak penyebutan speed dating“Mereka melibatkan anak-anak muda yang dinilai sudah masuk usia menikah. Supaya jodoh mereka tetap orang Indonesia,” ujarnya seperti dilansir VOA Indonesia, Kamis (23/1/2020).

Ia menjelaskan, pada prinsipnya itu adalah (proses) mengenal. Dimana ia menekankan apabila masing-masing calon merasakan cocok saat pertemuan, maka melalui IMSA akan dinikahkan. “Konsep sebenarnya itu taaruf. Mereka akan dipertemukan. Apabila mereka cocok, maka mereka akan segera dinikahkan,” jelasnya.

Sementara itu, Pengurus lain matrimonial, Feraliza Gitosaputro menolak istilah speed dating. Yang dilakukan, menurutnya, membuat acara santai untuk dihadiri para pemuda pemudi supaya bisa saling mengenal. “Programnya bagus, hanya diubah saja Speed Datingnya. Istilah itu ga enak saja maknanya. Tapi program perjodohan masyarakat Muslim Indonesia,” jelasnya.

 

Baca juga:

IMSA 2019 dan Semangat Diaspora Indonesia untuk Membangun Negeri

 

Dalam pertemuan matrimonial, Feraliza menjelaskan, yang hadir diberi formulir untuk diisi, dan menyebutkan siapa yang hendak dikenal lebih lanjut setelah pertemuan tersebut. "Speed dating-nya itu belakangan, kalau memang mereka tertarik. Dikasih form. Siapa yang hendak dikenal lebih lanjut untuk ngobrol. Keduanya dipertemukan. Mereka diberi kesempatan untuk ngobrol. Kita dampingi dulu, bicara sebentar, kemudian kita tinggal, keluar ruangan, supaya mereka saling ngobrol, kita kasih waktu sekitar 15 menit. Itu caranya,” jelas Feraliza.

Dari pertemuan itu, diberi lebih dari satu pilihan supaya bisa mengenal lebih banyak. Pilihan akan mengerucut dan, setelah saling bertemu, mereka akan ditanya, apakah mau bertemu lagi? Mereka yang mau bertemu lagi, akan diproses lebih lanjut.

Sejauh ini, menurutnya, sudah empat pasang yang bertemu jodoh melalui matrimonial service tersebut. Bisa dibilang sebagai prestasi mengingat layanan perjodohan ini baru lima tahun ini aktif, karena didesak kebutuhan.

“Dan memang ini sekarang, kalau saya lihat, ya sudah menjadi kebutuhan. Orangtua juga mempunyai high expectation. Ya kita ikhtiar saja semampu kita. Kalau urusan jodoh itu kan bukan matematika manusia tetapi matematika Allah. Biasanya orangtua, walaupun sudah berusaha untuk open mind, dari hati yang paling dalam masih ingin, kalau bisa sama-sama Muslim lah…Dan salah satu cara ya lewat Muktamar ini. Muktamar ini kan satu-satunya pertemuan Indonesia Muslim terbesar di Amerika di mana kesempatan bertemu Muslim banyak itu kan di sini, jadi ya inilah kesempatan untuk mencari jodoh dalam tanda kutip ya,” ujarnya.

Kemudian, salah satu pasangan itu, Rocky Tantu dan Nadya, justru berjodoh dari acara tersebut. Ia mengungkapkan pengalamannya, bahwa, ia terus terang tidak berniat mencari jodoh. Malam itu ia hanya ikut-ikutan teman datang ke acara matrimonial service dalam acara Muktamar IMSA.

Diketahui, untuk masuk data base layanan perjodohan ini, tidak ada batasan umur. Terbuka saja. Tetapi, kata Feraliza, sejauh ini yang lebih banyak terdaftar adalah usia 20-an dan 30-an. Pertengahan 20-an paling banyak. Mereka umumnya anak-anak dari anggota IMSA sendiri. Sebagian kecil ada orang luar yang mendaftar ke data base itu, dengan usia di atas 30 bahkan di atas 40 tahun. Dari jumlah itu, laki-laki dan perempuan yang membutuhkan bantuan layanan tersebut, menurut Wiwied, hampir sama.

Dalam acara pertemuan tahunan IMSA 2019 akhir Desember lalu, acara perkenalan itu dimediasi dua pasangan muda suami istri, untuk mendorong kaum muda Muslim Indonesia agar saling mengenal dan mulai berpikir untuk menikah. (hmz/voaindonesia)

 

Baca juga:

IMSA Puji Muslim Indonesia yang Mampu Bentuk Wajah Baru Amerika


Back to Top