Pesantren Motivasi Indonesia Miliki Kesamaan Visi dengan Pemikiran Gus Dur

gomuslim.co.id - Gusdurian Bekasi Raya menggelar Haul Gus Dur ke-10 di Pesantren Motivasi Indonesia (PMI), Kampung Cinyosog, Burangkeng, Setu, Bekasi, dipilih sebagai lokasi pada Sabtu (25/1/2020).

Pengasuh PMI, KH Nurul Huda Haem mengatakan pesantren ini memiliki kesamaan visi dengan beberapa pemikiran Gus Dur. Salah satunya adalah melayani kemanusiaan. 

Menurutnya pesantren yang baik adalah yang mampu melayani siapa pun yang datang ke pesantren, mulai guru, santri, hingga tamu. Kemudian dalam konsep pelayanan itulah, Pesantren Motivasi Indonesia berjumpa dengan pemikiran Gus Dur.

"Hanya karena melayani kemanusiaan, Gus Dur rela dicabik-cabik, di-bully, bahkan diancam akan dibunuh, dan direndahkan orang. Spirit pelayanan kemanusiaan beliau menginspirasi Pesantren Motivasi Indonesia untuk mendukung penuh kegiatan Haul Gus Dur," kata Ayah Enha, sapaan akrab ulama muda Betawi ini.

PMI juga mengalami hal serupa, seperti perisakan (bullying) dan fitnah dari pihak yang tidak sependapat. Namun, Kiai Enha menganggap hal tersebut sangat biasa dalam sebuah perjuangan.

"Pesantren ini sering di-bully dan difitnah. Apalagi kalau sudah dikaitkan dengan persoalan politik dan pemikiran keagamaan. Tetapi selama kita berada di jalan kebenaran dari sisi pemahaman kita tentang agama, kita tidak perlu khawatir dengan bullying atau tekanan dari luar," jelas kiai jebolan Pesantren Ploso, Kediri, Jawa Timur ini.

 

Baca juga:

PBNU Gelar Haul ke-10 KH Abdurrahman Wahid

 

Kiai Enha kemudian menanggapi pernyataan intelektual muda Nahdlatul Ulama Ulil Abshar Abdalla tentang umat Islam yang diharapkan juga untuk mendoakan atau menghauli tokoh agama nonmuslim yang wafat. Bahkan, PMI diminta juga menjadi lokasi acara doa bersama untuk mendoakan tokoh agama nonmuslim itu.

"Saya pikir itu ide menarik untuk kita wujudkan dalam format kebersamaan. Selama ini, yang orang takutkan dan khawatirkan adalah (pemikiran-pemikiran secara normatif) bahwa kita dilarang mendoakan orang lain yg berbeda iman," kata Kiai Enha.

Lanjutnya, dalam konteks lain doa memiliki arti sebuah harapan, dan pemegang akhir atau yang memiliki jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan adalah Tuhan. Sementara Tuhan tidak bisa diintervensi. Jadi, dengan yakin, Kiai Enha yakin bisa melaksanakan gelaran doa bersama untuk tokoh agama nonmuslim.

 

Baca juga:

Sewindu Haul Gus Dur, Masjid An-Nahdlah PBNU Gelar Khataman Alquran

 

"Pesantren motivasi sejauh ini, memberikan apresiasi terhadap para kemanusiaan lintas iman, yang nanti juga bisa disatukan dalam Haul Gus Dur beserta haul para tokoh dan pejuang kemanusiaan," kata Kiai Enha.

Doa lintas agama tidak menjadi masalah karena itu menjadi bagian dari permintaan kita kepada Tuhan yang menguasai semesta raya ini untuk merawat dan menjaga memelihara kedamaian di muka bumi.

"Jadi ketika hamba-hamba Allah yang baik itu berhimpun dan berkumpul lalu berdoa bersama untuk kebaikan dunia, itu harus mendapat dukungan. Walau dalam perjalanannya, pasti ada saja yang tidak setuju dan tidak menyukainya," ujar Kiai Enha.

Ia juga sepakat dengan narasi terbaru Gus Ulil bahwa kelompok-kelompok radikal harus dihadapi tapi bukan untuk dilawan. "Jadi, narasinya bukan melawan. Karena kalau melawan akan menciptakan permusuhan, melainkan menghadapi. Bagaimana menghadapinya itu nanti kan ada dialog dan lain sebagainya," pungkas Kiai Enha. (Mr/NUOnline)


Back to Top