MUI dan BAZNAS Segera Luncurkan Fikih Mualaf

gomuslim.co.id - Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menjalin kerjasama untuk membuat Fikih Mualaf. Hal ini disampaikan Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kiai Cholil Nafis beberapa waktu lalu.

"Itu Fikih mualaf sudah jadi. Kami sudah membuat Fikih Mualaf untuk disosialisasikan melalui Baznas," katanya. 

Fikih Mualaf ini bertujuan untuk membina para mualaf yang sering kebingungan dengan panduan ajaran-ajaran Islam. Sebab di Indonesia sendiri menganut berbagai paham mahzab yang berbeda, dan buku ini bisa jadi bantuan referensi.

"Kita (Muslim) sendiri di Indonesia mengikuti berbagai macam mahzab. Tapi apa yang kami lakukan kombinasi. Kami memberikan pemahaman bagaimana para ulama membina para mualaf itu, dan tentunya disesuaikan dengan kewenangan yang berlaku, yaitu perkembangan (fikih) dengan modernitas," ucapnya.

 

Baca juga:

30 Mualaf Asal Sukabumi Dapat Pembinaan dari Mualaf Center Baznas

 

Selanjutnya, kata Kiai Cholil, diharapkan Baznas sebagai penerbit Fikih Mualaf ini di kemudian hari dapat bersinergi dengan Kementerian Agama. Serta melibatkan pemerintah sebagai wujud sosialisasi secara resmi kepada para mualaf.

"Sementara kami dari MUI sudah memberikan arahan dan pembinaan terkait dengan Fikih Mualaf ini," ujar Kiai Cholil.

Sementara itu Pembina Mualaf Masjid Lautze Jakarta, Ustadz Yusman Iriansyah mengatakan, Fikih Mualaf itu sangat dibutuhkan oleh para mualaf. "Karena para Mualaf ini juga harus dibimbing dari ajaran fikihnya, akhlaknya, tauhidnya. Mereka kerap bingung dengan persoalan-persoalan kecil tentang pemahaman Islam," katanya. 

Sebelumnya, Direktur Mualaf Center Baznas, Sholahuddin el-Ayyubi, mengatakan proses penyusunan buku ini memang tidak bisa buru-buru perlu kehati-hatian dalam menyusunnya. Menurutnya, persoalan fikih mualaf tidak bisa terlalu rumit namun perlu alternatif memudahkan sehingga membuat mualaf cinta kepada Islam.

Terkait pola pembinaan mualaf, ia menyebut polanya memang masih fokus pada pembinaan pemahaman Islam. Perhatian untuk lebih lanjut belum berjalan. “Masih trial dan erorr, tapi saya kira itu tidak masalah karena memang kebutuhan mereka (mualaf) berbeda-beda,” katanya.

Menurutnya, ekonomi dan pembinaan lainnya perlu dipikirkan. Karena pelaksanaannya tidak mudah. Karena itu perlu adanya  kolaborasi misalnya, kolaborasi dengan lembaga yang ada fokus pemberdayaan, fasilitas dai, atau pengadaan dai. “Isu sinergisitas ini perlu digaungkan, salah satunya dengan Mudzakarah Dakwah Indonesia. Jadi orang-orang saling belajar,” kata dia. (Mr/okezone/dbs)

 

Baca juga:

Belajar Islam, 14 Mualaf PMI Ikut Tarbiyah Mualaf

 


Back to Top