Pengadilan Inggris Tidak Akui Nikah Siri, Begini Nasib Perempuan Muslim

gomuslim.co.id - Hukum Inggris ternyata tidak mengakui adanya nikah siri atau perkawinan secara agama Islam saja. Hal ini berakibat pada ribuan perempuan menikah siri yang bercerai di Inggris, tidak mendapatkan hak-haknya.

Pengadilan banding Inggris telah mengonfirmasi bahwa, nikah siri bukanlah pernikahan. Ini berarti pasangan tidak mendapatkan ganti rugi untuk pembagian aset perkawinan seperti rumah dan pensiun jika mereka bercerai.

Banyak pasangan nikah siri percaya bahwa mereka menikah secara sah. Tapi pernikahan mereka hanya sah dan diakui oleh hukum Inggris jika mereka menikah secara sipil dan dicatat oleh negara.

 

Baca juga:

Hukum Akad Nikah Lewat Video Call atau Telepon, Sahkah?

 

Di lansir dari Independent, Senin, (17/02/20), sebuah survei pada 2017 menemukan banyak perempuan muslim nikah siri. Dan hampir dua pertiganya tidak memiliki catatan sipil pernikahannya.

Menanggapi putusan pengadilan banding, Charles Hale QC, dari firma hukum keluarga 4PB, mengatakan ini berarti bahwa banyak perempuan yang menikah siri pada akhirnya tidak memiliki hak dalam 'pernikahan' mereka. Mereka juga tak punya aset atas nama suami, dan mereka tak punya hak untuk diberi nafkah.

Perempuan yang nikah siri kondisinya sangat rentan. Mereka membutuhkan perlindungan hukum saat ini.

Kasus pengadilan tinggi tahun 2018 menyangkut sepasang suami istri, Nasreen Akhter dan Mohammed Shabaz Khan, yang telah menikah siri. Mereka dinikahkan oleh seorang imam di depan 150 tamu di sebuah restoran di Southall, London Barat pada tahun 1998.

Namun akhirnya Akhter dan Khan bercerai. Akhter sudah menggugat cerai ke pengadilan. Tapi Khan menghalangi langkah itu, dengan alasan mereka tidak menikah di bawah hukum Inggris, hanya di bawah hukum syariah Islam.

Pengadilan tinggi mendengar, sebenarnya Akhter pernah mengajak Khan untuk mengikuti upacara pernikahan secara sipil agar diakui negara. Namun Khan malah menolaknya.

 

Baca juga:

Ini Tanggapan Dewan Muslim Adamawa Soal Tingginya Biaya Pernikahan di Nigeria

 

Mr Justice Williams, yang mendengar kasus ini menjelaskan, pernikahan itu termasuk dalam ruang lingkup Hukum Matrimonial 1973. Menurut hukum terdapat 3 kategori pernikahan antara lain pernikahan sah, pernikahan tidak sah, dan tidak menikah.

Pernikahan yang sah dapat diakhiri dengan surat keputusan cerai; pernikahan yang tidak sah dapat diakhiri dengan dekrit pembatalan; tidak menikah, tak bisa diakhiri secara hukum sebab secara hukum pernikahan tidak pernah ada.

Karena itu, dalam kasus Akhter dan Khan, Pengadilan Tinggi memutuskan bahwa pernikahan Akhter-Khan telah dilakukan tanpa mengindahkan persyaratan tertentu mengenai pembentukan pernikahan sesuai hukum Inggris. Akibatnya pernikahan siri mereka tidak sah. Dan untuk mengakhirinya dilakukan dekrit pembatalan. (Mr/okezone/independent)


Back to Top