Masjid di Inggris Ini Ternyata Dulunya Adalah Gereja dan Sinagog

gomuslim.co.id - Pertama kali bangun ini dibuat pada tahun 1793, bangunan yang sekarang menjadi Masjid Brick Lane Jamme (Brick Lane Mosque) telah digunakan oleh tiga agama besar selama hamper 300 tahun yakni Kristen, Yahudi dan Islam.

Dilansir dari publikasi londonist, Rabu (19/2/20), bangunan indah yang berdiri di sudut Fournier Street dan Brick Lane ini adalah landmark di daerah tersebut, berkat struktur tubular baja yang membentuk menara di pinggir jalan. Menara ini dibangun pada tahun 2009.

Pernah digunakan Umat Kristen

Dilihat dari sisi selatannya di Fournier Street, bangunan dua lantai ini beratap pediment segitiga dengan fitur jam matahari. Ini berisi moto Latin Umbra Sumus ("Kami hanyalah bayangan"), sebuah bukti bangunan ini digunakan oleh komunitas beragama sebelumnya.

 

Baca juga:

Keinginan Gadis Penderita Diabetes Bangun Masjid di Uganda Segera Terwujud

 

Sejarah bangunan ini terkait dengan migrasi dari Perancis. Dari awal 1700-an, puluhan ribu pengungsi Huguenot mulai berdatangan di Inggris. Huguenot adalah Protestan dan tidak diterima di Eropa Katolik pada saat itu. Mereka juga adalah penenun terkenal dan banyak menetap di bagian timur di mana mereka mendirikan pabrik pakaian. Ketika mereka menjadi kaya dalam perdagangan, kaum Huguenot membangun sendiri Neuve Eglise di Brick Lane, mungkin dirancang oleh Thomas Stibbs, yang telah membangun sebuah gereja Prancis sebelumnya di Threadneedle Street.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang Huguenot pindah dari daerah itu dan bangunan itu sementara disewa oleh London Society untuk Menyebarkan Kekristenan di antara orang-orang Yahudi, sebuah organisasi yang didirikan olehThomas Frey, seorang mualaf Kristen kelahiran Yahudi.

Diakuisisi Komunitas Yahudi

Dari tahun 1819 gereja melewati serangkaian denominasi Kristen. Kemudian, pada abad ke-19, gelombang orang Yahudi tiba di London, melarikan diri dari pogrom anti-Yahudi yang kejam di Rusia. Pada tahun 1897, bangunan itu diakuisisi oleh sekelompok orang Yahudi Lithuania ortodoks yang disebut Machzike Hadath ('Penguat Iman'), yang menemukan Yudaisme Inggris.

 

Baca juga:

Masa Pemerintahan Muhammad Qutb Shah di India, Masjid Indah Ini Berdiri Untuk Hapus Wabah

 

Dalam biografi bangunan tahun 1953, Bernard Homa menjelaskan bahwa kakeknya, Abraham Werner, adalah Rabi pertama dari Hadath Machzike dari tahun 1890 hingga kematiannya pada tahun 1912. Buku itu mengklaim bahwa pemakaman kakeknya adalah yang terbesar di Inggris pada waktu itu.

Era Bangladesh

Akhirnya, Yahudi mengikuti pola yang mirip dengan Huguenots – bekerja kemudian menjalankan perusahaan tekstil sendiri sebelum akhirnya pindah ke pinggiran kota yang lebih kaya. Sinagog tidak digunakan pada tahun 1970-an.

Namun, sejak 1950-an komunitas Bangladesh yang baru muncul mulai menetap di sekitar Brick Lane. Mereka mulai bekerja dan kemudian mengambil alih pabrik-pabrik tekstil, dan mengubah sinagog menjadi masjid. Menurut Mr Miah, bangunan itu dibeli pada tahun 1976 dan dibuka pada tahun 1978.

"Ada komunitas besar Bangladesh yang tinggal di dekatnya. Jadi itu selalu menjadi tempat ibadah mereka," kata Miah.  

Sementara ia menekankan bahwa masjid itu terbuka sebagai tempat beribadah bagi setiap Muslim meskipun mayoritas jamaah adalah orang Bangladesh, atau keturunan Bangladesh.

Masjid ini bisa menampung sekitar 2.000 jamaah saat salat Jumat. Jamaah semakin banyak ketika dua Idul Fitri dan Ramadhan tiba. Mereka  datang untuk berbuka puasa dan berbagi makanan di ruang bawah tanah masjid.

 

Baca juga:

Masjid Agung Jawa Tengah dan Islamic Center Segera Dibangun di Magelang

 

Masjid ini mempunyai program keagamaan yang rutin yakni program bahasa Bengali untuk anak-anak asal Bangladesh. Ada juga madrasah keagamaan setiap malam akhir pekan, dimana kaum muda belajar tentang Islam.

Meski demikian, Miah tidak mengkhawatirkan masa depan bangunan ini. "Ini seperti gereja di negara ini. Ketika saya pertama kali datang ke Inggris, semua orang Inggris akan pergi ke gereja setiap hari Minggu, tetapi sekarang ini mereka berhenti. Hal yang sama terjadi di masjid-masjid," tuturnya. 

Jumlah kehadiran mungkin juga menurun karena fakta migrasi yang sederhana. Jika ada masjid yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka, ada sedikit motivasi untuk ke masjid Brick Lane.

Biaya pemeliharaan untuk bangunan Georgia juga tidak kecil. "Ini adalah bangunan bersejarah yang terdaftar, kami tidak diizinkan melakukan perubahan apa pun di luar atau pada struktur, dan perbaikan apa pun perlu dilakukan menggunakan bahan asli, jadi perawatannya tidak mudah” jelas Miah. (Mr/londonist)


Back to Top