Kuasai 14 Bahasa, Begini Kisah Pemuda Tionghoa yang Mimpi Lihat Kakbah dan Jadi Mualaf

gomulsim.co.idSeorang pemuda Tionghoa asal Singapura, Darren Mak akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam dan menjadi seorang mualaf. Sebelum mengenal Islam, Darren merupakan pribadi yang pemarah bahkan sempat beberapa kali mencoba melakukan bunuh diri.

“Saya banyak berpikir tentang kematian, karena apa gunanya (hidup)? Kadang-kadang saya mencari tahu cara yang paling tidak menyakitkan untuk bunuh diri dan merencanakan untuk melakukannya,” ujar Darren seperti dilansir dari publikasi mothership, Rabu (19/02/2020).

Darren yang juga merupakan seorang polyglot, ia memiliki kelebihan yang cukup langka, yakni ia mampu memahami 14 bahasa. Namun, prestasi Darren di sekolah bisa dibilang tidak baik lantaran ia terkenal nakal dan kerap mabuk-mabukan.

Hingga pada suatu malam ia bermimpi aneh tentang situs suci umat Islam yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Apalagi ia seorang atheis yang tidak mempercayai agama apapun. “Letakkan bebannya dan hadapkan dirimu ke Kakbah,” perintah sebuah suara dalam mimpinya.

 

Baca juga:

Model Playboy Ini Pilih Jadi Mualaf Meski Ditinggalkan Ratusan Ribu Fans

 

Darren pun mengaku bingung dengan maksud mimpi itu, apalagi dirinya sama sekali tidak tahu soal Kakbah. Namun karena ia seorang yang percaya pada nasib, ia pun menganggap hal itu sebagai sebuah pertanda “Aku benar-benar ketakutan,” katanya sambil tertawa kecil.

Kemudian, Darren pun mencari tahu apa itu Kakbah hingga dia akhirnya mempelajari Islam. Ia melakukan penelitian sendiri sekitar dua tahun. Selanjutnya, ia memutuskan mengambil kursus mualaf.

“Menjadi polyglot memang berguna. Beberapa bahasa saya tahu sedikit membantu ketika belajar Islam. Tetapi materi utama saya masih dalam bahasa Inggris,” ungkapnya.

Tak berselang lama, Darren pun mengumumkan dirinya telah jadi mualaf. Hal itu ia umumkan melalui akun media sosial Facebook miliknya.

Meski ada beberapa orang yang tidak percaya, tapi sebagian besar orang tau bahwa Darren sudah berubah. Ibunya pun bahkan ikut senang dengan perubahan itu. “Kamu memiliki tujuan hidup sekarang. Kamu kini menjadi lebih baik, lebih bahagia,” ujar sang ibu-kisah Darren.

“Ayah saya yang sangat khawatir karena saat saya memutuskan menjadi muslim bertepatan dengan puncak kekejaman ISIS. Dia sangat ketakutan kalau-kalau saya berubah menjadi teroris. Sampai hari inipun ia masih ragu. Seperti ketika saya mengatakan, saya akan ke Indonesia, misalnya, dia bertanya, mau apa saya kesana,”lanjutnya berkisah.

Menjadi seorang Muslim China baru juga memberinya perspektif unik tentang perjuangan komunitas Muslim, salah satunya menemukan tempat makan di Singapura.

Ia mengungkapkan bahwa harga makanan halal disana tidak murah, setidaknya 2-3 dolar lebih mahal. “Dan ketika saya menyadari hanya bisa makan dari satu restoran di sekolah, saya menghela napas,” ucapnya.

Meski demikian, ia tidak terlihat seperti tipikal Muslim atau Melayu di Singapura. Ia pun bersyukur terhindar dari perundungan yang sering dihadapi oleh rekan-rekan Muslimnya sehari-hari. (mga/mothership/dbs/foto:indogo)

 

Baca juga:

Begini Kisah Mantan Ketua Geng Motor yang Masuk Islam di Balik Jeruji Besi 


Back to Top