Tersentuh Doa Teman Setiap Selesai Ngaji, Pria Timor Leste Ini Mantap Jadi Mualaf

gomuslim.co.id – Seorang pria asal Timor Leste, Ahmed (nama muslimnya) membagikan kisahnya ketika memutuskan untuk memeluk agama Islam dan menjadi seorang mualaf ketika dirinya sempat mengalami sakit parah.

Kisah ini berawal saat Ahmed memutuskan untuk mencari nafkah di Indonesia. Ia pun tinggal di Jakarta dan beberapa tempat lain di Indonesia. Hal tersebut ia lakukan karena perekonomian di Negaranya yang selalu tidak stabil.

Ia menceritakan, lahir dan besar di Timor Timur yang merupakan sebuah negara kecil di Asia Tenggara dan memperoleh kemerdekaan dari Indonesia pada tahun 2002 silam. Ahmed mengikuti agama keyakinan keluarganya, Katolik lantaran pulau tempat kelahirannya merupakan pulau bekas penjajahan koloni Portugis.

Suatu hari, Ahmed menerima tawaran bagus untuk bekerja di sebuah kota di Sumatra Selatan. Ia pun pergi ke Sumatra Selatan dan mulai bekerja di sana. Setibanya di sana, ia pun berbagi kamar dengan sesama pekerja Muslim. “Kami rukun. Dia adalah orang yang baik dan kami menjadi teman,” ungkap Ahmed seperti dilansir dari publikasi About Islam, Kamis (20/2/2020).

 

Baca juga:

Kuasai 14 Bahasa, Begini Kisah Pemuda Tionghoa yang Mimpi Lihat Kakbah dan Jadi Mualaf

 

Menurutnya, orang Indonesia biasanya tidak memiliki masalah dengan orang-orang dengan agama yang berbeda dari agama mereka sendiri. Terkadang, ia pun melihat teman sekamarnya melakukan salat di kamar. Dan setelah salat, temannya tersebut berdoa menyebutkan namanya.

Ahmed menceritakan, sang teman muslim tersebut secara teratur membaca Surat Ya-Sin. “Setelah membacanya, lantas dia pun akan berdoa dengan turut menyebutkan nama saya. Dia melakukan ini setiap waktu dan akhirnya saya ingin tahu mengapa dia selalu menyebut nama saya setelah doanya,” ungkap Ahmed.

“Kamu adalah temanku dan sesama manusia. Aku menginginkan yang terbaik untukmu. Itu sebabnya saya berdoa untukmu,” kisah Ahmed menyampaikan kalimat sang teman muslim yang senantiasa mendoakannya.

Mendengar kalimat tersebut, Ahmen pun tersentuh oleh penjelasannya yang kemudian membuat hati Ahmend  terbuka untuk belajar tentang Islam.

“Ketika teman sekamar saya tidak ada di rumah, saya akan mengambil buku Ya-Sin kecilnya dan membaca transliterasi dalam aksara Latin. Saya menyukainya dan saya terus membacanya secara teratur. Setelah membaca saya melakukan permohonan seperti yang saya pelajari di sekolah Minggu ketika saya masih tinggal di Timor Timur,” paparnya.

Suatu hari, Ahmed pun sakit parah. Ia mengalami demam tinggi dan merasa sangat lemah. Bahkan, ia hampir tidak bisa berjalan dari kamar meski hanya untuk duduk di teras kecil di depannya.

“Saat itu, teman saya sedang pergi ke masjid. Saya duduk di kursi malas di depan kamar kami. Itu adalah waktu untuk salat sesudah matahari terbenam. Adzan sudah mulai. Saya bangun dan merenungkan situasi kesehatan saya yang sulit. Tiba-tiba, saya mendengar suara seorang lelaki tua di dekat telinga kanan saya dan berkata ‘Bangun dan bergegas ke tempat panggilan doa datang. Di sana Anda akan menemukan kedamaian dan ketenangan’,” jelasnya.

Ketika tersadar, ia melihat ke sisi kanannya, tetapi tidak ada orang di sana. Kemudian ia mendengar suara seorang wanita tua yang berbisik di dekat telinga kirinya dan berkata, “Dengarkan apa yang dikatakan kakek. Bangun dan pergi. “Saya melihat ke kiri tetapi tidak ada orang di sana. Saya mulai merasa gugup dan menjadi agak takut. Kemudian suara lelaki tua itu muncul lagi, ‘Pergilah, anakku. Kamu disembuhkan’,” ungkapnya.

Setelah mendengarkan kalimat dari sang kakek dan nenek tersebut, akhirnya Ahmed terbangun. Kemudian, ia pun merasa penyakitnya sudah hilang. “Dan saya berlari ke masjid dan bergabung untuk salat. Saya tidak pernah meninggalkan salat sejak saat itu. Alhamdulilah. Sekarang ini dua puluh tahun yang lalu,” pungkas Ahmed. (mga/AboutIslam/foto:ilustrasi)

 

Baca juga:

Model Playboy Ini Pilih Jadi Mualaf Meski Ditinggalkan Ratusan Ribu Fans


Back to Top